Aku Mau Jadi Anak Kecil yang Bandel Sekali Lagi

Dok.Therenewedfamilly.com

Jadi itu paling enak sedunia. Kerjaannya sekolah, main, dimarahin, lalu disayang orang-orang. Belum ada beban ketika dewasa. Harus mikir berat. Teman pun susah dicari. Kalau mau main enggak segampang seperti masa kecil dulu. Tinggal ke lapangan atau ke rumah teman, bisa langsung main deh.

Gara-gara Nyalanya, saya jadi ingat masa kecil di kampung saya di ujung Lampung. Kalau kami bertamu ke rumah teman, tidak ada yang namanya budaya ketuk pintu. Adanya teriak-teriak panggil nama teman di depan rumah. Aku pernah dimarahi orang tua teman gara-gara teriak memanggil namanya. Namanya Hendra, kata guru di sekolah SD-SMA, kami ini duo kriminal karena selalu bikin gara-gara.

“Hendra..Hendraa..” teriakku.

“Hendra tidur! Enggak usah main dulu. Blam!!” Ayahnya membanting pintu.

Aku kesal sekali karena rencana berenang sama Hendra Gatot alias gagal total. Padahal sudah janji sejak beberapa hari sebelumnya. Ya sudah karena aku kesal beberapa menit kemudian aku teriak memanggil nama ayahnya dari depan rumah.

“Warisa..Warisa..Main yoo,” teriakku.

Begitu kulihat sosok Ayah Hendra yang bulat berwajah garang itu keluar aku langsung lari sekuat tenaga sambil tertawa-tawa. Besoknya pas di sekolah Hendra marah karena dia dipukul ayahnya. Tapi marahnya sebentar karena setelah pulang sekolah dia mengajak main PS di rental. Kami main Winning Eleven sampai maghrib lalu besoknya Hendra cerita dia dimarahi lagi.

Kami pernah juga iseng-iseng meneriaki nama ayah teman di depan rumah mereka. Seperti biasa saat ada yang membuka pintu, Aku dan Hendra langsung ambil langkah seribu. Hal terburuk yang pernah kami lakukan mencuri buah milik para tetangga kampung saat mereka ibadah tarawih di Masjid. Ketika sudah masuk rakaat satu, kami diam-diam keluar masjid lalu keliling kampung cari orang yang punya pohon rambutan atau mangga di halaman rumah mereka.

Kami bagi tugas. Hendra menaiki pohon lalu memetik buah sedangkan aku menampungnya dengan bagian depan sarung yang aku lebarkan. Saat dirasa cukup kami menaruhnya di tempat persembunyian di dekat rumahku lalu lanjut ke Masjid. Pernah ketahuan satu kali ketika ada tetangga yang memberitahukan ke orang tua kami. Mereka melihat kami beraksi malam-malam tapi diam saja. Malah katanya mereka tertawa ketika melihat kami di depan rumah. Tapi kok ya dilaporin gitu ya, habis tangan ini dipukul sama rotan penggebuk kasur.

Setelah kuliah aku dan Hendra sama-sama jarang bertemu karena beda kampus. Hendra waktu itu kuliah di Bogor sedangkan aku di Jogja. Saat Lebaran juga dia jarang pulang. Aku cuma tahu kabarnya dari orang tuanya. Katanya Hendra sekarang menetap di Bogor karena sudah mendapat kerja di sana. Komunikasi pun jarang karena kesibukan masing-masing. Inilah yang membuatku ingin jadi lagi. Bisa main sama Hendra dan nakal-nakalan lagi. Hal mustahil yang bisa aku dapatkan di usiaku yang mulai menginjak 25 tahun.

Deni Darmawan
Pengusaha Sablon di Lampung



Genre:

Tema: