Awal Mula Burung Gagak Berwarna Hitam

Burung Gagak
Burung Gagak (Dok.Toel Corner)

Pada zaman dahulu, hiduplah seekor burung bernama Gagak di hutan yang lebat. Burung Gagak banyak disukai oleh para hewan lainnya. Selain karena bulunya berwarna putih mengkilap, burung Gagak juga suka membantu hewan-hewan lainnya. Pernah suatu ketika si Gagak menyelamatkan burung kecil yang ditangkap lalu dikandangkan oleh manusia saat berkemah di hutan. Perbuatannya itu membuat burung Gagak mendapatkan banyak pujian dari hewan lain.

Tapi ada satu hewan yang sangat iri dengan Gagak. Namanya burung Bangau. Burung Bangau iri dengan kecantikan bulu Gagak. Selain itu Bangau juga iri karena banyak dapat teman dan selalu mendapatkan pujian. Bangau ingin sekali merusak kecantikan Gagak. Sudah berbagai cara dilakukan tapi tidak berhasil juga. Gagak yang selalu dikerjai burung Bangau tidak pernah marah karena dia baik hati.

Suatu hari Bangau menemui burung Gagak yang sedang mencari ikan di pinggir sungai.

“Hai Gagak, kamu lagi apa,? tanya Bangau berpura-pura baik.

“Oh Bangau, sudah lama kita tidak berjumpa. Aku sedang mencari ikan tapi tidak ada ikan di pinggir sungai. Aku tidak tahu caranya,”

“Kamu kan pintar, kenapa tidak tahu caranya? Tinggal masuk saja ke sungai, banyak ikan kok,” pancing Bangau.

“Kakiku kan pendek, tidak seperti kamu yang berkaki panjang dan mudah menangkap ikan. Nanti aku tenggelam kalau masuk ke sungai,” jawab Gagak dengan ekspresi sedih.

Bangau merasa inilah waktu yang tepat menunjukkan kehebatannya di depan Gagak. Siapa tahu nanti Gagak akan menceritakan kehebatannya menangkap ikan ke hewan-hewan lain yang ditemuinya.

“Tenang Gagak, aku kan menangkap ikan untukmu. Aku kan Sang Juara menangkap ikan di hutan ini,” kata Bangau sombong.

Burung Bangau memang jagoan menangkap ikan. Tidak butuh waktu lama paruhnya langsung mengapit ikan berukuran besar lalu diberikannya ke Gagak. Gagak pun semringah karena mendapatkan makanan lalu mengucap banyak terima kasih ke Bangau. Gagak pun ingin membalas budi pada Bangau.

“Terima kasih sekali Bangau. Kamu baik sekali. Dengan cara apa aku bisa membalas kebaikanmu,?”

“Wah gimana ya, aku ingin sekali punya bulu indah seperti punyamu. Buluku kurang putih padahal hanya kita berdua burung di hutan ini yang punya bulu putih. Apa sih rahasianya,?

“Maaf Bangau,kalau untuk yang satu itu aku tidak bisa memberitahukannya. Itu sangat rahasia. Sekali lagi aku minta maaf,”

Jawaban Gagak membuat Bangau murka. Ia lalu memaki Gagak sebagai hewan tidak tahu diri yang tidak tahu berterima kasih karena telah dibantu. Bangau lalu pergi meninggalkan Gagak yang sedih mendengar temannya memaki-maki dirinya.

Keesokan harinya, Gagak menemui Bangau yang sedang istirahat di pinggir sungai hutan. Gagak mau meminta maaf karena sudah menyakiti Bangau. Belum sempat bicara, Bangau tiba-tiba melemparkan cairan hitam pekat ke tubuh Gagak. Bangau tertawa puas setelah melihat cairan itu menghitamkan bulu Gagak yang putih mengkilap.

“Hahaha..hahaha, kena kau Gagak. Kena Kau!! Aku tahu kau pasti datang menemuiku, jadi aku siapkan cairan hitam ini pemberian temanku di laut. Rasakan kau Gagak, bulumu tidak lagi indah Hahahaha,” ejek Bangau yang lalu terbang meninggalkan Gagak.

Gagak yang kaget serta sedih dikerjai temannya sendiri berusaha membersihkan tubuhnya dengan air sungai. Namun cairan hitam itu tidak bisa hilang dari tubuhnya. Gagak melihat tubuhnya di air sungai. Bulunya kini sudah hitam pekat. Tapi Gagak tidak sedih, malah tersenyum puas.

“Wah keren juga,”

Adinda Ayudia Ristika,  Kelas IV SD



Genre:

Tema: