Bukan Facebook yang Salah

Dok. Mindtools

Dulu sekali saat pertama gabung di Facebook sekitar tahun 2005, media sosial garapan Mark Zuckerberg masih asyik. Di Facebook aku bisa bertemu lalu ngobrol sama teman yang sudah lama tak bertemu, menulis kegundahan hati atau mengunggah swafoto yang dikomentari banyak orang. Apalagi saat ada yang komentar “Wahhh makin cantik ajah nih”. Efeknya semangat seharian. Menyenangkan.

Di tahun itu pengguna masih jujur. Pakai nama sendiri. Kamera belum “jahat”. Komentar orang apa adanya dan jarang sekali ada yang tersinggung meski status, tulisan, atau foto kita dikritik. Nah sampai pada masa di mana bermunculan akun memakai nama yang susah sekali dibaca, misalnya Cibungsuygcelaluingindisayang. Di beranda penuh tulisan yang, sumpah yaa kamu perlu nge-zoom agar mengerti isi tulisannya. Cukup mengganggu tapi lumayan menghibur juga.

Lalu datanglah segerombolan pengguna yang menamakan Komunitas Penjual Online. Widiihhhhh langsung deh beranda jadi bak Mangga Dua. Semua produk mulai dari baju, alat kecantikan, pelangsing, peninggi badan semua ada. Lanjut setelah FB dikuasai penjual online, datang pula penyebar be hoaks. Mereka ini saban hari menyebarkan provokasi, kebencian, dan kebohongan dengan tujuan mencari keuntungan.

Puncaknya adalah Pilpres kemarin. FB jadi tempat untuk menyebar kebencian. Si pendiam berubah buas. Berbeda pilihan diartikan menabuh genderang perang. Tidak sepaham dan seragam dianggap orang gila. Putus silaturahmi, tak betegur sapa meski di dunia nyata bertetangga. Banyak yang kehilangan teman juga kolega. Bukan Facebook yang salah tapi penggunanya yang kini terbagi nomor satu dan dua.

Ayolaahhh sampai kapan mau begini?. Sampai kapan mau menyebar kebencian?. Sedih saat negara lain berperang melawan penjajah negara kita malah berperang dengan rakyatnya sendiri. Ini negara bukan punya pendukung 01 atau 02 tapi seluruh rakyat Indonesia.

Rita Melda
Guru TK Tenera



Genre:

Tema: