Catatan Debi Devina: Kisah-Kisah yang Menampar Nalar

Catatan harian Debi Devina Ariyanti, pelajar SMP Tenera ini berisi 18 kisah yang ditulis tangan. Seluruh tulisannya menampar nalar dan emosi pembaca. Seperti dua kisah berikut ini:

Rumah Seribu Cermin

Dahulu kala di sebuah Desa terpencil, ada sebuah rumah yang disebut penduduk sebagai Rumah Seribu Cermin. Suatu hari seekor anjing kecil yang sedang jalan-jalan di Desa lalu melintasi rumah itu. Si anjing tertarik dengan rumah itu lalu memutuskan masuk untuk melihat-lihat isi di dalamnya.

Sambil lompat ceria, anjing itu menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan yang terbuka dengan riang. Telinganya diangkat tinggi dan ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah lalu melihat 1000 wajah ceria anjing dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar dan seribu wajah anjing ceria itu juga membalas dengan senyum lebar.

Ketika meninggalkan rumah itu, ia berkata dalam hati bahwa akan kembali ke rumah itu suatu saat nanti karena bertemu dengan ribuan sosok anjing menyenangkan.

Tak berselang lama, datanglah anjing lainnya ke rumah itu. Wajahnya cemberut ketika menaiki tangga dan masuk pintu depan. Begitu sampai di dalam ia kaget melaihat seribu wajah anjing kecil muram dan tidak bersahabat. Segera saja dia menyalak keras yang dibalas dengan gongongan menyeramkan 1000 anjing dalam cermin. Ia takut lalu cepat-cepat keluar dari dari rumah sambil menggerutu.

“Aku tidak akan kembali ke rumah menyeramkan ini lagi,” gerutu si Anjing.

Buku Deby Devina

Selalu Ada yang Pertama

Seorang laki-laki berusia 24 tahun naik kereta bersama ayahnya. Saat kereta jalan ia kagum dengan pemandangan yang dilihatnya di luar kereta.

“Ayah lihat, pohon-pohon itu berjalan,” teriaknya.

Ayahnya tersenyum namun tidak dengan pasangan muda yang duduk di dekat mereka. Pasangan muda itu memandang perilaku si laki-laki itu dengan tatapan aneh. Di tengah pandangan aneh itu si laki-laki kembali teriak ke ayahnya.

“Ayah, awan itu mengejar kita. Mereka berlari,”

Pasangan muda mulai tidak sabar dengan tingkah anehnya. Mereka lalu menegur Ayah laki-laki itu.

“Pak, anak Anda sakit jiwa ya? Sudah besar tapi tingkahnya seperti itu. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit jiwa saja,”

Sang Ayah tersenyum lalu menjawab teguran pasangan muda itu.

“Saya sudah membawanya ke dokter, tapi bukan dokter rumah sakit jiwa. Anak saya buta sejak lahir dan baru mendapatkan donor mata kemarin. Ia baru bisa melihat hari ini,” jawab Sang Ayah lalu pasangan muda itu pun diam dan meminta maaf.



Genre:

Tema: