Ceritaku Menemukan Ibu Setelah 14 Tahun Berpisah

Swadesta Aria Wasesa

Bersama Ibu dan adikku setelah 14 tahun berpisah.
Bersama Ibu dan adikku setelah 14 tahun berpisah.

Suatu pagi 14 tahun lalu. Aku kedinginan usai dimandikan nenek. Nenek menggosok tubuhku dengan minyak kayu putih. Tubuhku jadi hangat. Setelah dipakaikan seragam merah-putih, Nenek lalu mengambil minyak rambut seukuran kuku jari telunjuk. Dengan sisir berbentuk setengah elips, Nenek merapikan rambutku dalam kamar berukuran 4×5 meter.

Aku melihat ibu asik berdandan di sampingku. Mungkin mau ke pasar pagi-pagi. Dia cantik sekali pagi itu dengan gincu merah di bibirnya. Tiap malam, bibir itu yang mengecup dahiku sebelum tidur. Momen kala aku menikmati wajah cantik Ibu terganggu dengan ketukan pintu. Ibu bergegas membukakan pintu lalu kembali ke kamarku.

“Ibu pergi dulu ya,” pamit Ibu Slamet lalu berlalu bersama seorang laki-laki.

Aku saat itu berusia tujuh tahun. Momen pagi itu jadi kali terakhir aku bertemu Ibu dari rumahku yang berlamat di Dusun Gebang Purworejo, Jawa Tengah. Dari pagi itu Ibu tidak pulang berhari-hari. Aku terus menanyakan ke mana Ibu pada Nenek. Menahun berlalu, sampai aku kelas satu SMP Ibu juga tidak pulang. Jawaban Nenek selalu sama ketika aku tanya Ibu ke mana. Nanti pasti pulang kata Nenek.

Nama Ibuku Supriyati. Ayah kandungku tak tahu ada di mana. Waktu usiaku lima tahun Ayah sudah meninggalkan aku, adikku, Ibu, dan Nenek. Waktu kelas dua SMP aku sudah bisa melupakan kepergian Ibu yang tanpa jejak karena aku dan adikku terpaksa tinggal di panti. Nenek tidak mampu lagi membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-hari.

Sejak saat itu selain bersekolah aku juga mencari kerjaan sambilan. Pagi sampai siang sekolah, lalu sorenya bekerja bangunan agar bisa membelikan adi jajan di panti asuhan. Selesai bekerja, aku sering duduk di teras panti. Hanya melamun saja. Siapa tahu Ibu datang.

Saat kelas tiga SMP, aku mendapat informasi keberadaan Ibu dari teman Nenek. Ibu di Wonogiri. Tanpa pikir panjang, aku menyiapkan tas ransel butut, satu-satunya yang kupunyai dari SD. Kupecah tabungan dari tanah liat berbentuk ayam jago di kamar panti asuhan lalu berangkat ke Wonogiri mencari Ibu. Sebelum berangkat aku mencium adikku. Aku bilang mau pergi sebentar menjemput Ibu.

Aku berangkat dari Purworejo menggunakan bus ekonomi ke Wonogiri. Aku tanya sana-sini Dusun tempat Ibu tinggal berbekal info seadanya dari teman Nenek. Tapi aku cari-cari kok tidak ketemu. Uang habis untuk naik bus. Aku tidur menumpang di pos ronda atau masjid soalnya pas mau numpang di rumah orang tidak boleh.

Aku pun akhirnya kembali ke Purworejo dengan jalan kaki. Harapan mencari Ibu pupus. Saat SMA, aku sudah bisa menerima kalau Ibu sudah tak akan kembali. Ibu sengaja pergi dan tak mau mengurus kami. Setelah lulus SMA, aku merantau ke Jogja, cari pekerjaan. Tidak mudah awalnya mencari pekerjaan karena hanya berbekal ijazah SMA.

Kata Pak Ustaz, niat baik selalu dibantu Tuhan. Suatu hari aku bertemu dengan Wahyu Putra Ginting, pemilik warung kopi Lidah Ibu. Tanpa babibu, aku langsung diterima bekerja sebagai pramusaji di warung kopi yang cukup tersohor di Jogja ini. Selama hampir dua tahun bekerja di warung kopi, bayangan Ibu kembali datang dalam ingatan. Terlebih lagi saat momen lebaran.

Di warung kopi aku berkenalan dengan banyak orang. Salah satunya para jurnalis yang sering datang ke sana. Ada Mas Desta yang wajahnya mirip Nicholas Saputra, Mas Azka, Cahyo, dan Mas Aan. Kami cukup dekat karena mereka tiap malam ngopi di sana. Aku pun menceritakan kisah hidupku ke mereka dan minta apakah mereka bisa membantu menemukan Ibu. Lagi-lagi Tuhan membantu. Mereka menuliskannya di surat kabar dan media online lalu menghubungi komunitas-komunitas di Facebook tentang Ibuku.

Mas Aan dan Mas Azka mendatangi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wonogiri dan menanyakan apakah ada pemilih yang bernama Supriyanti. Ternyata ada dan fotonya cocok dengan ciri-ciri Ibuku. KPU memberikan alamat ke Mas Aan dan besok harinya kami langsung meluncur ke alamat yang dimaksud. Sampai di Dusun, aku dan Mas Aan tanya ke Kepala Dukuh tentang orang yang bernama Supriyati.

Pak Dukuh bilang kalau Supriyati pindah ke Dusun itu 14 tahun lalu bersama seorang warganya. Aku deg-degan mendengar cerita itu. Setelah aku utarakan maksud kedatangan kami ke Dusun itu Pak Dukuh kemudian mengantar kami ke alamat yang dimaksud. Kami melewati jalan dusun yang kecil menuju rumah di alamat yang diberi KPU. Saat sampai di halaman rumah, aku melihat seorang anak perempuan sedang main tanah. Wajahnya sangat mirip Ibu. Aku makin deg-degan.

Pak Dukuh mengetuk pintu rumah sederhana yang kayunya sudah mengelupas. Ketika pintu terbuka, aku melihat sosok Ibuku. Sosok yang 14 tahun lalu sedang berdandan di sampingku dengan gincu merahnya. Perempuan yang aku lihat di depan mataku saat ini tidak kalah cantik meski rambut ikalnya sudah memutih dan keriput halus tergambar di wajahnya. Dia memang benar Ibuku.

“Bu,” sapaku

Ibu langsung memelukku erat lalu menangis sekencangnya. Aku juga menangis sekencangnya. Mas Aan dan Pak Dukuh menjauh dari kami, seolah memberi ruang kami menuntaskan rindu 14 tahun tak bertemu lewat tangis. Ibu menciumku terus sambil minta maaf berulang kali. Seorang laki-laki keluar lalu ikut memeluku dan mengucapkan maaf. Dia adalah laki-laki yang membawa pergi Ibu. Aku tidak bisa menceritakan alasan kenapa Ibu pergi. Buatku itu tidak penting lagi karena aku bisa memeluk Ibuku lagi setelah 14 tahun lamanya.

Hari itu adalah momen paling bahagia yang aku rasakan. Aku makin bahagia karena ternyata aku punya adik lagi, perempuan yang aku lihat di halaman rumah Ibu itulah ternyata adikku. Setelah itu aku jadi sering ke rumah Ibu di Wonogiri. Terima kasih Mas Aan, terima kasih atas semua bantuan teman-teman yang sudah mempertemukanku kembali dengan Ibu setelah 14 tahun lamanya.

Slamet A
Penjaga Mini Market



Genre:

Tema: