Desa Go Back So Door yang Banyak Berubah

Mulyanto

Dok. encrypted-tbn0.gstatic.com

Aku punya dua kampung halaman. Pertama, Tulakan di Wonogiri Jawa Tengah. Kedua, Dadapan di Kabupaten Tanggamus Lampung Selatan. Sudah lama aku tidak menengok kampung halamanku Dadapan, kira-kira selama 37 tahun aku tidak menengoknya. Aku sangat rindu dengan kawan-kawanku di sana. Kawan berburu tupai, kawan mencuri jagung tetangga, kawan tidur di atas kandang sapi, kawan main go back so door, dan kawan main benteng sampai larut malam.

Hari ke-4 lebaran kemarin aku bertekat pergi ke kampungku di Dadapan. Aku naik travel dari Bengkulu ke Lampung, hanya 13 jam saja. Belum begitu lama rasanya aku di perjalanan tiba-tiba tersentak melihat gunung membiru nan megah. Aku tidak yakin dengan mataku lalu bertanya ke sopir apakah yang aku lihat barusan adalah Gunung Tanggamus. Sopir menjawab iya, jantungku berdetak makin kencang.

Ternyata tidak hanya gunung yang berubah. Dadapan juga sudah berubah. Tata perumahan berubah, tidak lagi beratapkan daun alang-alang. Pohon kelapa yang puluhan tahun lalu masih banyak kini bisa dihitung jari. Tidak ada lagi jalan becek. Pembangunan di sana sangat cepat. Bangunan lama dan tua campur aduk, pemandangan yang akrab namun sulit dikenali. 37 tahun mengubah segalanya ternyata.

Tapi aku masih ingat jalan menuju rumah pamanku. Sampai di sana paman bengong melihatku. Aku lihat dia juga sudah banyak berubah, rambutnya mulai memutih. Aku senyum lalu cium tangannya.

“Aku Mul, keponakan Paman,”

Aku tidak bisa berkata-kata, seolah ada yang menahan suara di tenggorokanku. Paman menatap mataku lama sekali lalu tiba-tiba menangis. Ia membimbingku masuk rumah lalu cerita-cerita banyak hal sambil menikmati rebusan talas dan kopi lampung lengkap dengan gula aren. Di rumah ini ingatanku memenuhi kepala. Potongan ingatan yang aku temukan di jalan mendadak lengkap di rumah paman.

Hari berikutnya aku datangi semua rumah teman-temanku. Aku masih ingat wajah mereka namun mereka lupa, apalagi setelah rambutku aku cat merah kecoklatan. Bagi mereka itu norak karena dan tidak layak dengan kehidupan di desa. Tapi aku bilang rambut berwarna bukan tanda orang jahat. Ada cerita menarik dari pertemuanku dengan teman-teman kecilku ini. Nama temanku itu Sujak, rumahnya hanya 200 meter dari kediaman paman. Kebetulan dia belum menikah sampai sekarang. Saat bertemu dia, aku panggil namanya keras sekali.

“Sujak!,” teriakku.
“Eh siapa ini?” tanya Sujak dengan wajah bingung.

Aku tidak langsung menyebutkan namaku. Aku tarik dia masuk ke dalam rumahnya lalu aku minta dia mengingat-ingat dengan wajah yang sedang dipandangnya. Tapi dia tidak mengenaliku juga. “Ini aku, Mul,” kubilang.

Sujak langsung loncat lalu memegang tanganku erat-erat. Dia mengajakku makan bakso di ujung desa yang sudah berubah seperti kota. Kami ngobrol masa di mana aku belum meninggalkan desa ini sampai kuah terakhir. Ah, aku bersyukur sekali masih bisa bertemu desa dan teman-teman kecilku. Masih diizinkan melihat keindahan Gunung Tanggamus dan merasai udara dingin di kaki gunung. Setelah dua hari bernostalgia di sana aku pulang ke Bengkulu dengan sejuta cerita yang kukisahkan ke keluarga. Suatu saat nanti aku pasti kembali ke sana.

Mulyanto
Kepala Sekolah SMA Tenera



Genre:

Tema: