Fanesa: Cita-Cita Nesa Bikin Rumah Buku

Tulisan berjudul Taktik Jitu Main Ultraman Ribut karya Fanesa Anggraini bikin heboh. Muncul tahun 2018 cerita itu dibaca ribuan pembaca per orang tiap bulan sampai sekarang. Nah kita kenalan dulu sama pelajar SMA Tenera kelahiran 26 Juni ini sekaligus resep menulisnya.

Fanesa

Tukang Kebun: Halo Fanesa, Vanesa, Fannesa, eh yang benar yang mana sih?

Fanesa: Namaku Fanesa, Kang Kebun, ‘N’-nya satu saja. Tapi panggil saja Nesa biar akrab hehehehe.

Oh oke, Fanesa. Selamat ya tulisan kamu dibaca seribuan orang per bulan.

Masa sih Kak? Padahal cuma tulisan begitu lho. Hati Nesa berbunga-bunga. Tidak tahu mau ngomong apa setelah mendengar kabar ini. Padahal tulisan kemarin itu muncul begitu saja. Ini jadi semangat tambahan buat Nesa biar lebih rajin menulis terus.

Kamu ingat enggak kapan persisnya menulis soal Ultraman Ribut itu?

Kalau enggak salah pas Nesa masih SD. Itu soal pengalaman berantem sama adik kalau enggak salah. Adikku laki-laki, dia ini kawan gelut tiap hari. Namanya, hmmm adalah. Kami tiap waktu berantem terus termasuk pas mainan Ultraman itu. Kadang Nesa jadi Ultraman, lebih sering jadi Monster sih. Nesa suka marah, adik juga keras kepala. Kebayang kan punya adik seperti dia? Tapi kami saling sayang lho sebenarnya.

Kamu berapa bersaudara sih? Dan Fanesa dibesarkan dalam keluarga yang seperti apa? Seru nih kayaknya ceritanya.

Seru dong Kak. Nesa tinggal di Desa Kak. Desa Medan namanya, jauh dari Tenera . Nama bapak Hariyanto, mama Ramauna. Dulu orang tua Nesa kerja di Agricinal tapi sekarang sudah keluar tapi Nesa masih nekat sekolah di sana. Dari kelas 3 SD sampai sekarang nekat ke Tenera. Mamak sama bapak baik, ya orang tua mana sih yang enggak sayang sama anak hehehe.

Nesa dibesarkan di tengah keluarga yang penyayang. Pokoknya orang tua Nesa itu selalu semangatin, soalnya dari kecil fisik Nesa lemah, suka sakit-sakitan, bolak-balik Bengkulu tiap minggu untuk kontrol kesehatan. Nesa beruntung banget punya orang tua sesabar itu menghadapi anak yang keras kepala, tukang merajuk, terus susah dibilangin.

Oh iya Nesa tiga bersaudara. Nama abang Dimas Hardimanto, dia kuliah sambil kerja untuk menambah uang jajan di Bengkulu. Abang itu selalu memperlakukan Nesa seperti tuan putri padahal dia orangnya super duper cuek, dingin tapi enggak tahu kenapa hangat sama Nesa. Entah karena Nesa anak perempuan sendiri mungkin. Adik laki-laki Nesa yang sering berantem itu lho Kak, namanya Tri Meilano tapi seringnya dipanggil Ikis.

Kalau soal menulis? Mereka juga kasih semangat?

Iya, kata Mamak tulisan yang baik itu jujur tidak dibuat-buat atau mau terlihat keren gitu Kak. Itu Nesa praktikkan. Terus Nesa tetap nulis meskipun enggak masuk Nyalanya. Kan di Tenera tiap ada acara, setiap hari-hari besar disuruh menulis cerita. Kadang sesuai tema kadang bebas.

Nesa kalau nulis itu gimana ya, yang ada dalam ingatan saja. Nesa termasuk malas berpikir, pemalas sih sebenarnya jadi yang terlintas sudah tulis saja. Tiap menulis biasanya Nesa yang paling cepat selesai, yang paling cepat ngumpulin.

Selama tiga tahun ini pernah patah semangat karena enggak masuk Nyalanya? Hayo jujur.

Walau cuma satu yang masuk, Nesa tetap semangat. Cerita begitu saja masuk, bagaimana kalau cerita yang bagus. Enggak patah semangat, karena bapak Kepsek SMP, Pak Teguh, memberi penghargaan dan hadiah. Meski sedikit atau kecil, Nesa berasa duh, senang banget. Seusia begini dapat hadiah gara-gara menulis doang.

Peran Perpus dan guru berasa juga Kak karena Nesa diperhatikan nian sama guru, apalagi sama Pak Teguh. Dikasih hadiah gara-gara lomba di kelas, dapat juara satu saja sudah senang banget. Apalagi kalau dibawa nulis ke mana-mana tambah senang. Ibu perpus juga banyak bantu, kalau kata-kata banyak enggak paham langsung tanya terus dijelaskan sampai Nesa ngerti. Make bahasa yang mudah Nesa pahamin, pakai bahasa teman.

Fanesa Anggraini

Selain keluarga dan guru, ada lagi enggak yang membuat kamu tidak patah semangat dalam menulis?

Ada. Ada Ibu Opi.  Ibu Opi kan setiap tahun selalu mengajak orang yang berhubungan dengan menulis ke Tenera kan. Nah ini juga berhubungan sama cita-cita Nesa Kak. Ibu kan senang mengajak orang yang berhubungan dengan menulis, tiap tahun, dulu tu Nesa kenal sama Pak Bandung Mawardi. Anggota Pak Bandung itu hebat.

Apa yang kamu ingat dari kedatangan Pak Bandung Mawardi?

Ada rumah yang tempat mereka kerja, ada yang nulis, editing, gambar, bagian sampul buku, pokoknya banyak. Mereka datang ke kelas, waktu itu Nesa masih SD entah kelas 5 atau 6. Nulis yang benar kayak mana. Kebetulan pas sambutan Pak Bandung itu Nesa mengisi acara pertama, kalau enggak cerita Nesa baca cerita atau puisi. Terus pas di kelas ditanya, ‘yang kemarin ke depan siapa saya?’ Nesa angkat tangan, terus dikasih buku. Bukunya itu tebal, besar, tentang Puteri Mandalika.

Buku Itu dibaca sebentar sudah habis karena kan tebal tapi bacaan anak-anak. Ya Nesa memang masih anak-anak waktu itu. Habis itu mulai terdorong mau nulis. Nesa mau bikin buku seperti itu juga. Mau bikin rumah buku juga seperti Pak Bandung. Pokoknya di rumah itu nanti tiap sudutnya ada tulisan Nesa semua, karya Nesa semua. Jadi Nesa mau gapai itu.

Tahu enggak ada yang bilang rajin menulis harus sama kuatnya dengan rajin membaca. Kamu juga sering membaca?

Tiap hari Nesa baca Novel atau buku. Novel suka yang horor, yang fantasi. Kalau pas SD suka yang KKPK alias Kecil-Kecil Punya Karya. Kalau tidak sedang baca buku, aku nonton anime. Bisa jadi referensi juga lho Kak. Aku lebih suka anime daripada drama Korea atau Thailand. Kebetulan abang suka anime juga, ada di laptopnya.

Anime apa yang bisa jadi referensi menurut kamu?

Kakak harus nonton Assasiantion Classroom sama Death Note. Terus Nobbles juga. Anime ini bukan yang genrenya tangis-tangis. Animenya dekat dengan horor dan dekat dengan kepolisian detektif. Bikin kita lebih cermat terhadap sesuatu. Kecermatan ini buat Nesa penting dalam bercerita. Oh iya, Nesa juga mau jadi detektif karena enak juga kayaknya jadi detektif bisa memecahkan kasus dan bantu orang.



Genre: Wawancara

Tema: Wawancara