Gulat Kambing: Permainan Kami di Kaki Gunung

Mulyanto

Kambing
Dok.Animallife

Sore itu saya menggembala bersama teman-teman di bekas ladang kentang yang membentang luas di Kaki Gunung Tanggumus, Lampung Selatan. Kambing saya tidak perlu diawasi, begitu juga dengan teman-teman. Mereka bisa mencari makan sendiri. Ketika itu sudah kenyang biasanya mereka akan duduk-duduk lalu tinggal saya panggil “embeeek”, mereka akan mendatangi saya. Canggih kan?.

Saya dan teman-teman punya kegiatan tak terlupakan saat menunggu para kenyang. Sementara mereka makanin rumput ladang, kami bermain embek-embekan, yaitu permainan gulat antarpemimpin kelompok .

Perkelahian itu satu lawan satu dengan peraturan tidak boleh memukul dan menendang. Hanya boleh memiting, membanting, dan mengunci leher. Bagi yang terkunci, cukup bilang “embeek” untuk menyerah.

Semua teman menyoraki permainan gulat itu. Kami sportif. Walau merasa sakit dan keseleo atau tercekik di leher tidak ada istilah kata dendam.

Perkelahian terus berlanjut sampai dua orang terkuat. Dua ketua kelompok “angon ” itu harus berkelahi mempertahankan nama kelompoknya. Siapa yang menang wajib dihadiahi rumput satu bentel (satu ikat besar) untuk dibawa pulang. Kalah atau menang tidak ada masalah, yang penting berbahagia.

Setiap sore kami selalu memainkan perkelahian itu dengan kisah dan memori yang berbeda. Sungguh, kami berbahagia di momen-momen itu. Itu adalah kisah masa kecilku. Masa kecil indah, jujur, dan tidak pernah kami lupakan sampai saat ini.

Mulyanto
Guru SD Tenera Bengkulu Utara



Genre:

Tema: