Hampir Mati Dua Kali

Anonim

Teman baik
Ilustrasi by pinimig

Lima tahun lalu aku pergi ke Lampung bersama keluarga menggunakan mobil. Lampung ternyata sangat jauh dari Bengkulu. Kami lewat jalan panjang berkelok, memutari bukit, lalu melintasi rel kereta api. Saat mau melintasi rel kereta api mobil tiba-tiba . Bapak coba membetulkannya tapi gagal terus. Mobil tidak mau hidup juga meski sudah diberi minum (mengisi radiator). Bapak keringatan memperbaiki mobil. Dia juga menggerutu terus karena mobil tetap .

Di tengah kekesalan itu kami mendengar suara klakson kereta api. Semua penumpang di mobil sangat panik. Bapakku menjadi orang pertama yang mendorong mobil keluar jalur kereta api. Tanpa dikomando keluargaku langsung membantu. Tapi anehnya mobil itu terasa berat sekali. Aku ingat bapakku teriak, “kenapa mobil ini jadi berat sekali”.

Bunyi klakson membesar, tanda kereta makin dekat. Semua panik lalu aku pun ikut membantu mendorong mobil agar lekas keluar. Kami mendorong mobil sekuat tenaga sambil baca doa dan beberapa saat kemudian mobil bisa kami dorong keluar rel.

Beberapa menit setelah kejadian itu, moncong kereta terlihat lalu “Whuuzzzz” melewati kami. Aku bersyukur sekali karena ada bapak yang selalu tanggap. Karena bapak, kami tidak dimakan kereta api. Anehnya mobil langsung hidup saat bapak menyalakannya. Kami langsung masuk mobil lalu melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan pun kami membahas kejadian di rel kereta api. Ibuku bilang rel itu ada hantunya. Aku takut sekali mendengar cerita itu.

Di tengah perjalanan kami berhenti dulu di pantai untuk istirahat. Hari sudah mulai sore saat kami sampai. Setelah turun mobil aku bergegas menuju bibir pantai untuk mandi.

“Jangan mandi di pantai, nanti hanyut dibawa ombak,” teriak ibuku.

Aku tidak menuruti ibu. Secepat kereta aku cebur ke laut mandi. Tiba-tiba ombak besar datang menggulungku. Bapak lari sekuat tenaga menyelamatkanku yang ditarik ombak menjauh dari bibir pantai. Dia menyelamatkan aku sore itu. Aku pun menangis saat ia gendong menuju tempat kami di pantai. Dua kali sudah bapak menyelamatkanku hari itu, kalau tidak ada bapak mungkin aku sudah dua kali hari itu. Sekian cerita ini, salam literasi.



Genre: Nonfiksi

Tema: Memori