Ibu Gila Kerja Agar Kami Bisa Kuliah

Ilustrasi kehujanan (Dok Istimewa)
Ilustrasi kehujanan (Dok Istimewa)

Orang tua adalah pahlawanku. Ayahku adalah seorang pemanen buah sawit sementara ibuku bekerja di bagian perawatan kebun. Tidak terbayang beratnya memikul egrek hampir seharian untuk memanen buah sawit berduri yang beratnya hampir 50 kilogram. Ibuku selalu membungkukan badannya untuk mengutip berondolan buah sawit.

Aku kasihan dengan orang tuaku. Di rumah aku meringankan pekerjaan mereka dengan membersihkan rumah, mencuci baju, piring, atau mencari makan untuk sapi kami. Mereka pasti capek menjalani pekerjaan ini apalagi ayah dan ibu tidak muda lagi. Rambut mereka bahkan sudah memutih. Tapi ayah dan ibu cuek dan tidak pernah memperlihatkan rasa capek itu di depan anaknya. Mereka selalu riang gembira saat bertemu denganku.

Aku sempat kesal dengan ibuku karena hari minggu bukannya istirahat tapi dia tetap bekerja. Aku tanya ibu kenapa hari minggu masih masuk kerja, setia dengan berondolan dari pagi. Ibu jawab kalau pekerjaan yang mereka lakukan itu punya risiko besar. Tapi mereka tetap semangat dan bekerja keras agar aku dan adikky bisa kuliah. Biar kami menjadi orang besar suatu saat nanti.

“Kami tidak mau kamu seperti bapak dan ibu. Kami mau kalian kuliah,” jawab Ibu.

Jawaban itu membuatku sedih. Pandanganku kabur, terhalang air mata yang terus aku tahan agar tidak tumpah. Kerja keras mereka semata-mata demi kami agar bisa meraih pendidikan tinggi.

Tuhan kami manusia penuh dosa, ringankan dosa kami terutama bapak ibu kami yang selalu bekerja keras di kebun demi kami. Amin.

Herdian
SMA Tenera



Genre:

Tema: