Jadi Kiper Itu Berat, Biar Aku Saja

Iqbal

Dok.Tukang Kebun

Hari minggu bulan lalu aku main bola kaki di Kota Bengkulu. Aku jadi kiper U-10 yang ikut kejuaraan sepakbola di sana. Sejak dari Mess sampai naik angkot kami sudah memakai peralatan lengkap. Aku pakai sarung tangan khusus untuk kiper biar tidak sakit saat menangkap bola.

Kami sangat gembira mewakili dan bisa sampai ke perebutan juara tiga. Tapi pas sampai di lapangan kami kaget karena melihat lawan yang badannya besar-besar.

Pertandingan lawan tim yang badannya besar-besar itu seru sekali. Kami banyak keringat sepanjang main. Pemain kami juga sering jatuh-jatuh karena didorong pemain lawan yang berotot. Temanku Faffa sampai terkilir kakinya karena cedera lalu enggak bisa lagi menendang bola. Aku berhasil menangkap bola tendangan pemain lawan yang keras-keras. Eh ternyata sulit sekali menjadi kiper, di tangan nyut-nyut begitu.

Priit..priit..pertandingan berhenti. Skornya 0-0. Pertandingan sekarang ke adu penalti. Aduh, aku makin degdegan apalagi Faffa tidak bisa main karena kakinya terkilir. Tendangan pertama masuk, aku tidak bisa menangkap bola. Alif temanku juga gagal memasukan bola.

Di tendangan ketiga aku berhasil menangkap bola, ku gagalkan penalti lawan. Eh ternyata penaltinya masih berlanjut aku kira sudah menang. Pada akhirnya U-10 kalah dan kami menjadi juara empat. Jadi kiper itu berat lho ternyata.



Genre: Nonfiksi

Tema: Olahraga