Janda Bolong yang Dilirik Banyak Orang

Unistri

Dok.Wordpress

Aku sempat heran saat di bumi tercinta ini semua orang saling berlomba mencari batu akik di pegunungan, hutan, dan desa. Alasannya biar kaya seperti teman saya bisa beli setelah jualan batu. Pepatah orang tua zaman dulu, jangan kasih anakmu makan batu, ternyata eh ternyata salah.

Harga batu yang mereka cari itu mahal, bisa sampai puluhan juta. Aku masih ingat nama–nama batu itu: kecubung kuning, bacan hijau, Safir, Zamrud, kecubung Kalimantan dan banyak lagi. Kalau tidak memakai batu akik berarti enggak keren, begitu kata pecinta batu akik. Nah sekarang kisah itu tenggelam seperti Kapal Titanic. Sekarang orang jarang pakai batu akik.

Beda zaman lain pula musimnya. Batu-batu itu sekarang kalah populer sama keladi alias . Media sosial sampai televisi ramai membahasnya. Tentu saja yang paling ramai dibahas bernama Janda Bolong, sampai sembilan puluh juta harganya. Pencinta bunga sangat tertarik dengan jumlah bolongan di daunnya. Kata mereka hanya dengan melihat bolongannya itu bisa menghilangkan stres di tengah Covid –19.

Tetangga bilang kalau di Bandung ibunya punya Janda Bolong lalu disimpan di atas lemari biar tidak hilang. Hahahaha ini bunga seperti mutiara sahutku. Aku dan teman–teman mulai menyukai . Kami berkeliling mencari berbagai macam bunga ini sampai suamiku bingung karena aku akan mengajak dia mendatangi teman–temanku untuk menambah koleksi bunga ku.

Sekarang bunga ku sudah buanyaaak sekali berbagai macam warna sampai aku minjam teras tetanga untuk memajangnya hahaha. Si Bekti melihat bunga ku lalu menyebutkan satu persatu nama latinnya: Caladium, singonium, colocasia, dan gingerland.

Tidak ada satu yang fotonya aku taruh di Facebook atau Instagram karena takut diminta orang. Soalnya banyak yang melihat koleksi ku lalu mau memintanya. Kakak Iparku dari Padang yang datang dengan temannya pernah mau minta koleksiku tapi langsung aku tolak. Adik yang di Kota Bengkulu saja enggak aku beri bibitnya.



Genre: Nonfiksi

Tema: Keluarga