Kami Ditipu Lalu Dijauhkan dari Kampung Halaman

Yulfitri Yana

Dok. encrypted-tbn0.gstatic.com

Di pagi tahun 2099 itu hati sangat riang, aku dan orang tua bersiap siap untuk berangkat. Kami akan ikut berangkat ke tanah Sumatra. Perjalanan dari Jawa Tengah ke Sumatra selama 4 hari 4 malam tidaklah singkat. Banyak hal hal baru yang aku lihat di perjalanan. Aku tak kuasa membendung khayal, saat tiba di Sumatera pasti aku akan melihat lihat gedung tinggi dan makanan enak.

Tapi kenyataan bicara sebaliknya. Mobil menurunkan kami di sebuah tanah luas penuh rumput yang liar. Aku kira Sumatera ini seperti kota yang aku lihat di telebisi, tapi ternyata sama saja dengan rumahku di desa, malah udaranya lebih panas. Kami melihat sebuah camp yang terletak di tengah tanah yang luas itu, kami berjalan ke sana melewati jalan setapak. Kami merasa aneh di sisi jalan setapak itu ada semacam sungai kecil, airnya berwarna kuning.

Saat sampai di camp, kami langsung makan siang lalu tertidur karena kecapaian. Rasanya baru sebentar menutup mata ada suara yang memanggilku. Dengan malas aku buka mataku, ibu menyuruhku bangun lalu menuntunku ke sebuah tenda besar di area tanah itu sambil berkata kita tinggal di sana nak. Hari hari terus berlalu aku benar benar merasa resah dan bingung mengapa kami tinggal di bawah tenda seperti ini, beda seperti yang ibu bilang bahwa kami ke Sumatera buat cari uang dan bisa dapat rumah.

Sore hari saat aku bermain di sekitar tenda itu aku mendengar berbincang dengan temannya. Temannya berkata bahwa kami tertipu oleh bujuk rayu seseorang sehingga kami tertarik untuk datang dan bekerja di tanah Sumatera. Kenyataannya, kami semua hanya disuruh kerja tanpa digaji bahkan makan saja dijatah. Hari demi hari tenda semakin sepi karena orang orang yang meninggalkan tempat itu karena sudah sadar telah ditipu.

Kami juga pergi. Mau pulang kampung tapi tidak punya uang. Kami akhirnya menyusuri jalan tanpa arah tujuan, luntang-lantung sambil membawa barang. Saat sudah sangat jauh dari tenda itu, kami bertemu sepasang suami istri yang sepertinya iba melihat penampilan kami lalu menanyakan keadaan kami. Orang tuaku menceritakan semuanya, tak lama kami diajak lalu diarah ke sebuah desa bernama Padang Panjang. Mereka bermurah hati menempati rumah kosong di desa itu. dan bergotongroyong membersikan rumah itu, sementara kami aman karena sudah ada tempat tinggal walau itu milik orang.

Demi menyambung hidup kerja apa saja. Kami sangat butuh uang untuk hidup, apalagi ibu sedang hamil. Malam itu kerja membantu nelayan menjual ikan di pasar. Saat hari sudah sangat malam, baru pulang dengan baju basah kuyub membawa sekantong plastik berisi ikan segar yang tadi dibawanya. Bapak minta maaf ke ibu karena tidak membawa pulang uang untuk membeli beras karena ikan yang di kantung itu tidak laku.

tersenyum lalu menjawab, “kita makan ini saja,” sambil menunjuk ikan di dalam kantong plastik lalu ke dapur.

Beberapa menit kemudian ibu membawa piring berisi ikan yang masih panas lalu meletakkannya di depan kami. Aku bertanya mengapa ikannya tidak digoreng, ibu menjawab tidak punya bumbu untuk memasak ikan ini dan tidak punya minyak untuk mengorengnya. “Jadi ibu rebus dengan garam saja,” jawab ibu.

Ikan rebus sudah bisa menjadi makanan kami selama belum mendapa pekerjaan yang tetap. Bapak yang seorang perokok rela tidak merokok agar uangnya bisa untuk beli makan untuk keluarga. Kalau dia sedang ingin merokok, terkadang aku disuruh memungut puntun rokok bekas orang. Bapak mengambil sisa tembakau lalu digulung lagi menggunakan kertas sehingga bisa dihisap.

Hari demi hari kami lalui dengan kerja keras. Bapak mendapat pekerjaan tetap merawat kebun semangka. Penghasilannya lumayan, aku bisa sekolah. Namun lama kelamaan kebun semangka mengalami penurunan sehingga penghasilannya makin sedikit. Namun tidak menyerah, beliau bekerja keras agar aku sekolah dan kami bisa membeli beras sampai akhirnya nenek menyuruh kami pindah ke lalu bertemu dengan sebuah PT. Kehidupan kami mulai membaik.



Genre: Nonfiksi

Tema: Memori