Kangen Omelan Ibu dan Pukulan Sapu Lidi Bapak

Santi Lastri

Fineartamerica.com (Painting by Laura LeeZanghetti)

Banyak anak banyak rezeki. Begitu pepatah yang sering digaungkan keluarga banyak anak. Keluarga saya sangat percaya pada pepatah itu. Memiliki saudara berjumlah tujuh orang membuat rumah kami ramai bak pasar malam. Keributan kecil sampai besar terjadi saban hari, entah karena berebut siaran TV atau sekadar guling. Bagi kami keramaian itu bentuk rezeki karena selalu ada gelegar tawa di tengahnya.

Saya sendiri anak ketiga, bos besar bagi keempat adik hehhee. Punya banyak saudara sering kali menguntungkan selain karena ramai kamu juga tidak perlu takut kesepian saat kena hukuman kurungan rumah. Kami juga seringkali melakukan kenakalan bersama-sama seperti yang terjadi waktu itu.

Hari itu, puluhan tahun lalu,kami melewati sungai bersih dan jernih saat pulang sekolah. Pemandangan itu membujuk kami mandi bersama. Secepat burung elang menangkap mangsa, kami ganti baju saat sampai di rumah lalu berkumpul ditempat yang sudah kami sepakati. Kami pergi tanpa pamit dan makan siang.

Sungai yang sedari tadi menunggu kehadiran kami, menawarkan keseruan dan kebebasan tiada tara. Kami lomba renang, lompat, bahkan salto dari jembatan. Terus bikin lomba tahan napas saat menyelam. Tidak terasa mata kami mulai merah, perut terasa lapar.

Dari kejauhan kami mendengar suara mobil berhenti. Keluar dari mobil sosok yang begitu akrab, kami memanggilnya “bapak”. Kami pun dengan riang menyapa dan melambai dari dalam sungai. Yessss kami dijemput bapak.

“Horeeeee,” kata salah satu kakak ku riang melihat bapak datang lalu kami menghampiri bapak.

“Plakk…… plaakkk, suara sapu lidi satu persatu mengenai kaki kami. Tak ada lagi senyum di bibir bapak yang kami lihat tadi. Dengan wajah marah beliau memukuli kami sambil berkata ”kalian ini bapak cari ke mana-mana enggak taunya pada mandi di sungai ini, bukannya minta izin, kalau kalian hanyut siapa yang tanggung jawab,” seru beliau.

Aku dan kakakku hanya bisa menangis. Sampai di rumah pun kami masih harus mendengarkan omelan mamak yang panjang. Begitulah keseruan dan kehangatan keluargaku kala itu. Seringkali ingin kembali ke masa-masa itu saat mendengarkan omelan mamak dan merasakan hangatnya kasih sayang bapak. Sampai bertemu di surganya Tuhan Mak, Pak, kami selalu merindukan kalian. Tunggu sampai kita berkumpul kembali. Kami janji di surga nanti akan pamit saat pergi mandi ke sungai.

Deva Susanti
Guru TK Tenera



Genre:

Tema: