Ke Pematangsiantar dengan Hati yang Terpukul

Dok.Lovelysimangun

30 April 2019. Kabar menyedihkan datang dari Sumatera Utara. Seseorang yang sangat keluarga kami cintai pergi tanpa meninggalkan pesan. Kami meneteskan air mata mendengar kabar itu. Tanpa pikir panjang meski pagi masih buta kami menuju Pematangsiantar untuk memberi penghormatan terakhir. Sepanjang perjalanan ke kampung halaman kami tidak tidur karena terbayang-bayang akan jasa-jasanya semasa hidup. Kami berangkat dengan hati yang terpukul.

Saat sampai di rumah duka, aku langung menuju peti yang jadi rumah barunya. Aku memandang tubuh di dalamnya. Wajahnya menua, kulitnya keriput, tapi sepertinya dia sudah bahagia di rumah barunya. Doaku buyar ketika ada orang menangis sambil bicara di depan petinya. “Bangun, bangun, dengar tangisan kami,” katanya. Percuma kataku dalam hati, dia tidak akan bangun. Siang itu aku mengantarkan dia ke tempat peristirahatan terakhir. Selamat jalan, kata terakhirku di depan peti rumah barunya.

Setelah pemakaman, kami tidak langsung pulang ke Bengkulu. Ke Brastagi dulu kata papaku. Brastagi letaknya di Tana Karo, cukup jauh dari rumah duka itu. Di sanalah kampung halaman kami. Perjalanannya sangat membosankan apalagi saat di Simpang Siantar. Menjengkelkan sekali karena di sana banyak kendaraan, macet. Kami lama sekali tertahan di simpangan itu. Saya jadi tambah jengkel karena Pak Sopir tidak pakai GPS jadinya sangat lama mencari-cari jalan.

Di sela-sela perjalanan kami mengunjungi Bukit Indah Simarjarunjung. Pemandangannya di sana sangat indah tapi kalau pagi hawanya sangat dingin seperti di dunia es saja. Selain melihat pemandangan papa menyuruhku naik sepeda gantung. Aku tidak berani tapi kata papa tidak akan jatuh karena sangat aman. Ya sudah aku naik memberanikan diri. Saat di atas sepeda yang melintasi kabel atau tali itu aku jadi cemas dan takut. Teriaklah aku minta turun tapi malah diketawai orang-orang termasuk papa.

Dari Simarjarunjung kami menuju Pelabuhan Tigaras, di mana kapal Sinar Bangun tenggelam di sana. Karena kapal fery belum datang kami foto-foto dulu di tugu kapal Sinar Bangun yang tertata rapi dengan kerlip lampu yang bagus. Di tugu itu ada nama-nama korban yang jumlahnya 116 orang. Setelah itu fery datang lalu kami naik. Di atas kapal kami melihat pemandangan Danau Toba yang bagus sekali.

Sampai di kampung halaman kami langsung makan karena sudah kelaparan. Papa menyuruh istirahat karena besok harinya kami harus kembali ke Bengkulu. Sebelum berangkat Bengkulu aku mampir ke sekolah SMP dulu. Banyak sekali kenangan di sana. Gurunya juga bertambah dan makin hangat sama murid-murid. Setelah puas nostalgia kami pulang ke Bengkulu.

Lestari
SMA Tenera



Genre:

Tema: