Kisah Beras Hutangan 10 Kilogram

Nur Kholifah

Kemarin aku mendapatkan hutangan beras 10 kilogram dari seorang teman. Saat dompet genting seperti ini, rasanya kacau sekali kalau sampai beras habis. Dengan perasaan lega aku pulang membawa beras sambil bersiul-siul, sesekali menyapa orang yang lewat dengan klakson sepeda motorku.

Dok Wikihow

Separuh perjalanan aku bertemu dengan Mulyanto yang juga membawa beras di belakang sepeda motornya. “Wah, ternyata Mul senasib denganku,” kataku dalam hati. Tiba-tiba aku teringat beras hutangan yang aku taruh jok belakang sepeda motorku. Alangkah terkejutnya aku karena beras itu tidak ada di sana. Aku berbalik arah untuk mencari berasku, siapa tahu jatuh di jalan yang sudah kulewati dengan kecepatan ninja Hatori, namun tak ketemu. 

Rasanya ingin menangis. Seketika pikiranku mumet. Aku kembali dengan hati yang galau kembali. Lebih galau dari tanggal tua. Kalau gajian terlambat, itu hanya urusan waktu. Tapi ini sudah hutang hilang pula.

Sampai rumah aku curhat dengan rekan-rekan kerja.  Eh, mereka malah menertawakanku. Mereka heran beras sebesar itu bisa hilang dari atas motor. Aku sendiri juga heran. Mungkin karena ukuran tubuhku yang tujuh kali lipat dari berat beras itu jadi sebabnya hingga tidak menyadari jatuhnya beras itu. Teman-teman memberi semangat agar aku ikhlas.

Setelah dua hari sejak peristiwa itu hampir seluruh orang di Agricinal tahu tentang kehilangan berasku. Aku hanya tersenyum bila ada yang menanggapinya. Aku sudah mengikhlaskannya. Sore hari aku ditelepon Bu Nur Hayatun, guru SMA yang cantiknya sama denganku. Dia semakin terlihat cantik saat memberitahu berasku ditemukan tetangganya di jalan. 

Ah, hatiku lega. Aku bersyukur sekali ternyata beras itu masih rezekiku. Kalau rezeki tak lari kemana. 



Genre: Nonfiksi

Tema: memori