Lima Mimpi Gadis Desa di Usia 24

Windia Sihombing

Namaku Windia. Sekarang aku berusia 24 tahun dan punya banyak sekali untuk diriku sendiri dan orang tua. Aku dilahirkan dari orang tua yang tidak ber tinggi. ku tidak menyelesaikan dasar karena harus berkerja agar dua adiknya bisa sekolah. Ayahku yang masa mudanya terkenal sebagai preman pasar di kampungnya bertemu ibu saat merantau ke Bengkulu. Mereka jatuh cinta kemudian menikah.

Ilustrasi: Brittany England

Aku memiliki tiga saudara kandung yang semuanya perempuan. Sejak kecil aku dibiasakan hidup mandiri karena posisiku sebagai kakak paling besar. Jarak usia dengan adik-adikku agak berdekatan, kata orang-orang namanya “susun tangga”. Saat SD aku sudah biasa mengikuti ibu untuk berjualan keliling Afdeling tiga kali satu minggu. Uangnya untuk beli susu adikku yang waktu itu masih sangat kecil.

Di tengah jualan keliling yang jarak antar-afdelingnya sampai puluhan kilometer itu aku sering iba sekaligus kagum sama ibu lalu berjanji dalam hati akan mewujudkan lima keinginan saat aku dewasa besok. Aku masih ingat betul lima itu.

Pertama, aku ingin membuatkan satu gedung rumah makan untuk ibu agar tidak lagi berjualan keliling dengan gerobak barang. Aku mau dia berkerja di rumah makan sederhana di pinggir jalan yang ramai. Di rumah makan itu ada gudang agar bisa menyimpan semua barang koleksi, barang bekasnya, dan barang hasil pungutannya supaya tidak berantakan di pekarangan rumah. Ayahku suka sekali memungut barang lalu di tangan kreatifnya barang itu jadi bermanfaat.

Kedua, aku ingin ku rajin beribadah dan mencintai Tuhannya. Cibiran orang waktu itu ke memotivasiku bisa mengajak ke gereja. Puji Tuhan sekarang ku sudah rajin dan sudah mencintai Tuhan. Ketiga, adik-adikku harus sarjana meski kami dilahirkan dari orang tua yang tidak ber.

Keempat, aku punya sendiri sendiri, ingin mebangun rumah tangga di usia 25 Tahun lalu memiliki dua anak yang bersekolah tinggi sampai profesor. Punya rumah makan Jawa dan Batak, kedai roti, dan coffee shop. Aku ingin tinggal di dekat sungai, punya kebun sayur mayur seadanya, berternak ayam, lalu menjadi seorang pendeta pada waktunya.



Genre: Nonfiksi

Tema: Cita-Cita