Masa Depan Terancam Tanpa Sapi

Dok.Static.Pulsk

Saya merasa bahagia karena mempunyai sapi ternak yang lumayan banyak, kurang lebih 40 ekor. Saya pikir sapi adalah semacam tabungan untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa depan. Setiap sore saya ke kandang melihat sapi-sapi yang gemuk dan sehat itu.

Tapi di pertengahan tahun 2018 saya merasa sedih dan kecewa karena sapi yang ada di tempat kerja terkena penyakit termasuk sapi saya. Hari demi hari tubuh sapi semakin kurus dan lemah bahkan ada yang mati. Berkerjasama dengan bidang perternakan di perusahaan, kami memberikan vaksin dan vitamin bahkan memberikan jamu yang terbuat dari kunyit dan gula merah. Namun sapi-sapi masih juga ada yang mati.

Melihat sapi-sapi yang semakin kurus dan lemah saya dan suami sangat sedih. Cerahnya masa depan terancam.  Suami saya pun terbebani sehinga sakit dan harus dirawat di rumah sakit selama empat hari. Setelah pulang dari rumah sakit, kesedihan kami malah bertambah karena sapi-sapi di kandang semakin kurus. Keesokan harinya saya menerima telepon dari anak bahwa dia juga masuk rumah sakit di Tanjung Inim saat melaksanakan tugas akhir. Lengkap kesedihan saya.

Melihat sapi yang tak kunjung sembuh saya dan suami memutuskan menjual mereka ke bidang perternakan walaupun dengan harga murah. Lebih baik dapat sedikit daripada tidak sama sekali. Saya merasa sedih karena sebelumnya saya mengharapkan sesuatu yang lebih indah untuk masa depan.

Estaria L Tobing
Guru SD Tenera



Genre:

Tema: