Masa Kecil Bersama Lumpur dan Tukang Oek-Oek

Bekti Satiani

Istimewa

Teriakan anak-anak bermain hujan di luar rumah tiba-tiba mengingatkanku pada ku. Aku sama dengan mereka saat ini, suka bermain lalu menari di bawah hujan dan bermain plesetan di tanah merah serta bermain lumpur. Selalu saja ada yang menangis setiap kami bermain hujan tidak terkecuali aku karena rambut kami penuh lumpur. Sampai di rumah tak berbentuk lagi muka kami lalu langsung diomelin Ibu. Mandi keramas sambil kena omelan sering terjadi.

Selain main hujan dan lumpur, saat kecil aku bermain bunga anak nakal dan BP-an (baju dan manusia dari kertas). Mainan itu kami dapatkan dari hasil berburu barang bekas yang kami tukarkan ke Tukang Oek-Oek. Kami menyebutnya memang Tukang Oek-Oek karena dia berkeliling desa mencari anak-anak kecil yang mau menukarkan barang bekas seperti botol kaca maupun ember plastik dengan mainan terjun payung atau, buku cerita Petruk, penghias rambut, atau kerupuk warna-warni.

Kami selalu tertib mengantri barang bekas dengan mainan Oek-Oek. Tidak pernah sekalipun kami berebutan. Kalau tidak ketemu Tukang Oek-Oek, kami sering mandi di Dam bendungan air. Kami main di air yang tidak terlalu deras setelah itu pergi memancing atau mencari keong di sawah. Rutinitas bermain setelah pulang sekolah itu tidak membuatku melupakan kewajiban mengaji di masjid. Padahal jarak masjidnya sangat jauh dari rumah. Tapi kami selalu riang gembira menempuh perjalanan itu.

Selesai mengaji, kami main lagi di sungai. Kalau banjir kami jadi sedih karena tidak bisa main di sungai. Jembatannya juga jadi tertutup air, kami tidak lewat. Banyak ular air lewat, jadi kami makin takut. Itu salah satu kisah ku di . Aku bangga sekali karena sangat bahagia melewati ku. Andai bisa diulang, aku ingin sekali kembali ke masa-masa itu bermain bersama teman-teman sekolah dan tetangga. Tapi waktu sudah berlalu dan kami hanya bisa menyimpannya dalam ingat masing-masing.

Bekti Satiani
Guru di Bengkulu Utara



Genre:

Tema: