Memburu Cicak dan Mencuri Mangga Bersama Abang

Ilustrasi kehujanan (Dok Istimewa)
Ilustrasi kehujanan (Dok Istimewa)

Kemarin abangku berlibur ke rumahku. Aku sangat senang dia datang. Kami langsung berputar-putar di desa. Aku ajak dia ke Gesos (sebutan anak-anak di desa untuk Guest House) lalu berputar-putar di sana sampai pusing. Terus kami istirahat sebentar di gereja biar tidak pusing lagi. Abang lalu tanya main apa lagi, aku jawab ambil jambu dan mangga di sekolah saja kebetulan dia juga mulai lapar.

Memetik jambu dan mangga di sekolah itu gampang. Kami cepat melakukannya lalu pulang ke rumah mencuci buah untuk dimakan. Kami membungkus satu buah mangga yang telah dicuci di rumah untuk dibawa ke Pasir Air. Kami bersenang-senang di sana sambil makan mangga. Setelah itu kami main lempar batu di pasir, tidak sengaja abangku menemukan tajur di pasir (tanaman). Kasihan sudah layu.

Karena batu di tempat itu sedikit kami pindah ke tempat pemecahan batu. Nah, di sana batunya banyak sekali. Kami ambil yang kecil-kecil lalu main lempar batu lagi di kasir. Sebelum main abang menanam tajur itu di tanah, biar tumbuh lagi katanya lalu kami main.

Baru main sebentar kami bosan lalu berpikir main apa lagi. Aku ajak abang memburu cicak yang ada di pondok dekat pemecahan batu. Kami pun bersemangat memburu cicak, kami tiarap pura-pura tidur biar cicaknya muncul. Eh tahunya muncul lalu kami sergap cicaknya. Cukup susah menyergap cicak, harus berkali-kali kami lakukan agar berhasil.

Setelah dapat satu cicak kami lapar lagi. Ya sudah kami berniat mencuri mangga ke sekolah tapi tidak berhasil. Kami keliling desa mencari buah mangga lagi tapi juga tidak dapat. Buahnya sudah dibungkusin dengan plastik dan kertas. Kami pulang saja dan memutuskan melanjutkan berburu cicak dan mencuri mangga keesokan harinya.

Reynad A.S
SD Tenera



Genre:

Tema: