Mengajari Temanku yang Muslim Puasa

Ilustrasi kehujanan (Dok Istimewa)
Ilustrasi kehujanan (Dok Istimewa)

Tanggal 17 Mei 208 kemarin Ummat Islam melakukan kegiatan . Mereka sangat senang karena siapa nya paling penuh akan mendapat pahala yang banyak. Saya juga senang melihat teman-teman saya . Saya sebisa mungkin menghormati mereka dengan ikut ber atau tidak makan minum di depan mereka.

Saya punya teman yang beragama Islam tapi tidak mau padahal dia sudah kelas 2 SD. Waktu main sama-sama, saya bilang ke Aldi kalau dia harus . Dia tidak mau malah nyolot dengan saya.

“Loh emang kamu siapa, Orang Tuaku? Mereka saja tidak marah kok kalau aku tidak , kok kamu marah sih?” Jawabnya.

Saya jelaskan ke Aldi bahwa tidak marah. Saya bilang kalau nanti dapat pahala dari Tuhan. Lalu saya bilang juga bahwa saya saja ber meski beda agama. Lalu si Aldi langsung pulang ke rumahnya bersama saya. Dia langsung tanya ke Ibunya soal dan perkataan saya.

“Memang benar kok kalau ber itu dapat pahala. Ya terserah Aldi mau atau tidak, kan sudah besar,” jawab Ibunya.

Aldi pun memutuskan siang itu juga ber. Malam harinya Aldi dan Orang Tuanya Salat Tarawih di Masjid dekat ruamh saya. Saya senang sekali melihatnya beribadah. Keesokan harinya Aldi main ke rumah saya dan bilang bahwa dia lupa sahur. Aldi tetap seperti biasanya tapi sahurnya pas pagi hari.

Kata Ibunya tidak apa-apa karena Tuhan itu maha tahu dan selalu ada di samping kita. Tuhan tidak pemarah dan pasti mengerti alasan Aldi sahur saat pagi hari. Perkataan Aldi membuat saya tersenyum. Giliran saya yang diajari Aldi dan apa yang dikatakannya benar. Tuhan maha tahu dan pasti selalu ada di samping kita.

Christopel Rotama Hutajulu
SMP Tenera



Genre:

Tema: