Mia Sang Pengamen Cilik Keliling Indonesia

Dok.Guitalele

Kehidupan Mia semakin sulit setelah Ayahnya tidak lagi bekerja di pabrik karena sakit paru-paru. Demi menyambung hidup, Ibunya berjualan kue keliling kota. Mia pun terpaksa putus sekolah karena tidak ada lagi biaya untuk membayar uang gedung dan SPP. Sebagian besar uang penjualan kue digunakan untuk mengobati Ayahnya. Mia pun harus membantu Ibunya agar kebutuhan keluarga mencukupi. Pupus sudah cita-citanya menjadi dokter.

Kebetulan Mia termasuk pintar menyanyi dan bermain alat musik. Saat ada pentas di sekolah, dia selalu mewakili kelasnya untuk menyanyi. Guru-guru pun menyebutnya titisan Alm.Franky Sahilatua karena selalu menyanyi sambil main gitar dan bisa menciptakan lagu sendiri. Mia juga cerdas dalam mengolah kata-kata dijadikan lirik lagu.

Mia pun memutuskan menggunakan kelebihannya itu untuk membantu Ibu mencari uang untuk penggobatan Ayah.

Mia pergi mengamen mulai jam tujuh pagi sampai azan magrib. Kadang Mia menjual suara di pinggir lampu merah. Kadang ikut bus berkeliling kota atau ke rumah-rumah. Meski suaranya bagus tidak tiap orang memujinya. Mia sering mendapat perlakuan buruk juga. Saat menyanyi di depan rumah orang, dia sempat beberapa kali diusir bahkan sampai dicaci maki. Tapi Mia pantang menyerah. Demi Ayah dan Ibu di rumah, tiap rintangan harus lewat.

Dari pagi sampai sore hari, Mia mendapatkan uang Rp 20 ribu yang ia tabungkan untuk membeli beras dan membeli obat ayahnya. Kadang kalau belum mencapai target Rp 20 ribu, Mia tetap mengamen sampai malam.

Suatu hari, Mia menelusuri jalan mencari tempat mengamen. Hari itu dia baru mendapatkan uang Rp10 ribu, padahal hari sudah mau petang. Ketika masuk ke komplek perumahan, Mia melihat seorang anak yang lebih kecil darinya sedang termangu di depan pagar rumah orang. Bajunya kotor dan wajahnya pucat. Mia lalu mendekati anak itu.

“Kenapa kamu, Dek,?

“Mau minta-minta Kak. Saya belum makan dua hari. Tapi dari tadi tidak ada yang membuka pagar rumah,” kata anak kecil itu lalu menangis.

Mia tersentuh. Ia ingin membantu anak itu tapi bimbang. Kalau diberikannya uang hasil mengamen, dia tidak bisa membawa pulang uang untuk Ibu dan Ayah. Kalau tidak diberi, bisa-bisa anak kecil itu mati kelaparan. Setelah lama mendengar tangis anak itu, Mia pun memberikan uang hasil mengamennya dan diterima dengan suka cita oleh anak kecil itu.

“Terima Kasih, Kak. Terima Kasih,”lalu menciumi tangan Mia.

Setelah berpamitan, Mia kembali mencari tempat mengamen. Ia keluar perumahan ke jalan besar dan kebetulan ada bus yang berhenti. Ia pun mengamen di dalam bus. Mia menyanyikan lagu ciptaannya sendiri yang ia buat sendiri.

Kalau ada waktu pulanglah ke rumah, Ibu menunggu
Saat ada ragu kembalilah ke rumah, Ayah di situ
Ketika rindu merayu pulanglah ke rumah, Mereka pun begitu

Untuk yang masih ada cintailah
Yang sudah berpulang, rawatlah
Untuk yang masih ada bergegaslah
Yang telah berpulang, berdoalah

Para penumpang bus hening mendengar lagunya. Tiap penumpang lalu memberi uang yang cukup besar pada Mia. Ketika bus berhenti di lampu merah, Mia turun. Dihitungnya jumlah uang yang diberi para penumpang ke dalam kotak ngamennya. Rp 50 ribu. Baru kali ini dia mendapatkan uang banyak dari hasil mengamen. Ketika asyik menghitung ulang, pundaknya ditepuk oleh seorang lelaki paruh baya.

“Lagumu dan suaramu indah sekali. Membuatku ingin pulang dan menengok ayahku di kampung. Aku sangat terharu. Begini, besok sore datanglah ke rumah bosku,” kata pria itu lalu menuliskan alamat di secarik kertas.

Sore berikutnya Mia menepati janji dengan mendatangi alamat yang diberikan dari pria yang ditemui di trotoar. Mia tidak perlu menunggu lama setelah memencet bel. Seorang perempuan cantik berambut sebahu membukakan pagar lalu mempersilakan masuk. Mia kagum dengan ruang tamu rumah itu. Banyak perabotan unik dan foto seorang penyanyi terkenal yang dikenalnya lewat televisi.

“Kamu sudah makan,? tanya perempuan itu lembut.

“Sudah,” kata Mia berbohong.

“Ada apa Bu, kemarin saya disuruh datang ke alamat ini sama om-om yang ketemu di trotoar Pagar Dewa?,” tanya Mia.

“Kemarin itu namanya Pak Azka. Dia adalah sopir suami saya. Kebetulan suami saya sedang mencari penyanyi untuk konsernya keliling Indonesia. Pak Azka cerita dia menemukan penyanyi cilik bagus di dalam bus dan dia bilang sudah menyuruh kamu datang,”

Perempuan cantik itupun meminta Mia menyanyikan lagu yang dibawakan dalam bus kota. Mia lalu menyanyikan lagu ciptaannya itu sampai selesai. Perempuan itu pun sampai menangis mendengarkan lagu Mia. Sama seperti Pak Azka, dia pun teringat orang tuanya di kampung halaman. Sang penyanyi terkenal yang mencuri dengar dari dalam kamar tiba-tiba keluar dan langsung bertepuk tangan.

“Ini dia, ini dia! Ini permata yang dicari. Ternyata ada di Bengkulu musisi secerdas ini. Mau ya menjadi pembuka konserku keliling Jawa,”

Mia semringah mendengar ajakan penyanyi terkenal itu. Ia langsung mengiyakan. Penyanyi terkenal itu juga mengantarkan Mia pulang dan memberi uang tanda jadi di depan ayahnya yang menahan sakit di kasur. Mia sangat bersyukur pada Tuhan atas jalan yang diberikan. Uang itu bisa membawa ayahnya berobat ke rumah sakit. Selanjutnya Mia pun selalu mengirim uang pada orang tuanya di rumah dan kehidupan mereka pun makin membaik.

Rantika Ariandini, Kelas VII SMP



Genre:

Tema: