Nasihat untuk Aktivis Pemberantas Populasi Jomblo

Rita Melda

Dok.Wikihow

Banyak momen yang membuat Lebaran selalu saya rindukan. Pertama yang paling seru adalah kumpul keluarga besar. Sanak saudara yang selama ini terpisah disatukan Lebaran. Setelah setahun penuh merantau mereka pulang lalu merasakan hangatnya berkumpul bersama keluarga.

Seperti di rumah saya kemarin. Suasana rumah yang tadinya tenang berubah ramai. Pagi sekali sudah ada keributan besar di pintu kamar mandi (maklum kamar mandi di rumah emak cuma satu). Mereka berebut pakai kamar mandi. Baru juga main air sedikit, eh pintu sudah diketuk.

“Cepat, cepat!” suara dari luar kamar mandi. Jika jawaban ‘sebentar’ terasa lama, ketukan mengeras lalu adu mulut pun terjadi.

Siang sedikit, teriakan atau tangisan para bayi dari saudara bakal mengganggu istirahat. Lanjut malamnya akan terjadi ‘perang badar’, semua menjadi buas rebutan guling. Biasanya saya yang mengalah karena tinggal sekampung sama emak (toh biasanya kalau abang enggak pulang saya peluk guling dua). Begitulah keadaan rumah setiap harinya. Meski jauh dari kata tenang, emak tampak bahagia. Setiap hari dihabiskan dengan bercanda bersama cucu-cucunya.

Yang kedua adalah safari keluarga di mana kami berkunjung secara bergantian ke rumah kakak dan adik emak. Bayangkan, emak punya sembilan saudara ditambah tiga orang dari pihak bapak. Safari kemarin membutuhkan waktu paling sedikit lima hari. Berkeliling, ngobrol, dan bercanda sambil menikmati hidangan di momen Lebaran ini selalu menyenangkan.

Nah kadang momen safari ini bisa dirusak oleh kejadian kecil seperti pembulian berjamaah kepada Si Jomblo yang malang. Pertanyaan seperti ‘kapan menikah?’ atau ‘kamu enggak mau menikah?’ jadi basa-basi busuk yang sangat bau.

Sebenarnya perkara menikah itu urusan pribadi. Boleh tanya kalau kalian punya solusi, minimal kenalin sama anak Pak Erte kek atau comblangin sama saudara sepupu, begitu kan lebih baik. Paling tidak kamu ikut ambil bagian dalam pemberantasan pertumbuhan yang makin meningkat.

Buat para yang selalu dapat pertanyaan begini saat Lebaran jangan baper atau menghindar. Cukup kasih jawaban yang enggak serius saja. Misalnya jawab saha ‘jodoh itu ditangan Tuhan, Bro. Kalau aing belum menikah sampai sekarang itu berarti Tuhan sudah lepas tangan hahhahahhaaa’ atau ‘Nunggu sapi ikut olimpiade dulu baru menikah’.

Terus saat bertemu saudara atau teman yang tubuhnya membesar, jangan bilang “kamu sekarang gendutan yah, cantikan waktu masih sekolah deh,”. Sumpah ini basa-basi yang jahat banget.

Buat yang suka kasih pertanyaan, belajar bersimpatilah kepada orang lain. Jadilah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Jangan menambah beban orang lain dengan pertanyaan enggak penting. Cukup bersikap biasa saja dan tetap kasih doa baik. Selamat Lebaran

Rita Melda
Guru TK Tenera



Genre:

Tema: