Payung Perang Mbah Rasimun

Rasimun tercatat sebagai pegiat tertua dalam Festival Payung Nusantara 2018. Meski sudah berusia 93 tahun, Rasimun masih membuat sampai sekarang. Tangannya masih cekatan mengikat benang ke rangka kertas yang terbuat dari kayu. Secara tak sengaja, Nyalanya bertemu Mbah Rasimun saat jalan-jalan ke Festival Payung Nusantara 2018.

Waktu itu Nyalanya melihat Mbah Rasimun cuek bebek di tengah hingar bingar pengunjung candi yang berswa foto dengan - cantik yang ditaruh di Taman Lumbini. Mbah Rasimun duduk di tikar sambil menganyam benang dan mengikatnya ke rangka . Penasaran dengan kecuekannya, Nyalanya duduk di dekat Mbah Rasimun lalu mengajaknya ngobrol. Mbah Rasimun dibantu Pak RW kampung rumahnya di Malang menjawab pertanyaan Nyalanya pendengarannya memburuk.

Mbah Rasimun bersama kertasnya

Nyalanya: Mbah sejak kapan membuat ?

Rasimun: Dari 1945. Waktu itu saya masih tinggal di Sidoarjo, di sana ada yang mengajari bikin . Seorang Guru. Namanya lupa siapa, setiap hari kami kumpul sama teman-teman. Bikin yang seperti ini (menunjuk -nya yang dipamerkan). Tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu itu.

Nyalanya: Apakah Mbah tidak ada sampingan apa gitu selain membuat sejak tahun 1945?

Rasimun: Tidak ada, dari dulu sampai sekarang ya bikin saja. Gagangnya dari kayu, terus mengikat rangkanya pakai benang. Atap nya dari kertas samak yang dikasih ramuan biar tidak tembus hujan. Bisa hidup kok.

Nyalanya: Terus apa yang membuat Mbah begitu cintanya dengan ?
Rasimun: Karena perang.

Nyalanya: Perang apa? Hubungannya dengan apa Mbah?

Pak RW: Si Mbah ini kalau bikin selalu ingat perang. Biar saya yang menjawab karena Mbah ya pasti berat jawabnya. Waktu Si Mbah belajar bikin dulu di awal-awal, Belanda datang. Sidoarjo kena, Si Mbah terpaksa mengungsi dari rumahnya. Tapi Mbah tetap ikut berjuang walau mengungsi. Si Mbah dan teman-temannya bikin sambil rapat mau menyerang Belanda. Jadi pas ada patroli lewat tidak diapa-apakan karena kan bikin . Terus Si Mbah pas berhasil merebut senjata menyembunyikannya di .

Rasimun: Pak RW ini yo masih ingat zaman perang kok. Senjata dalam , tak beginikan (lalu mengapit di ketek).

Nyalanya: Jadi Mbah dan teman-teman membuat untuk berjuang? Jumlahnya banyak enggak temannya Mbah yang ikut?

Rasimun: Banyak (lalu diam cukup lama), tapi ada yang tidak kembali.
Pak RW: Si Mbah ini juga membagikan ke tukang-tukang becak diajak berjuang merebut senjata Belanda.

Nyalanya: Payung ini berarti bisa dibilang kenangan Mbah terhadap teman-teman semasa berjuang ya? Apa alasan itu juga yang membuat Mbah masih mempertahankan pembuatan kertas?

Rasimun: Iya
Pak RW: Payungnya Si Mbah ini ibarat NKRI. Dari dulu selalu begitu. Filosofinya tidak berubah sejak diajarkan sama Guru di Sidoarjo itu.

Nyalanya: Ceritakan Dong Pak filosofinya Mbah Rasimun

Pak RW: Gagang yang kecil ini adalah dasar dari setiap perbuatan baik, yaitu agama. Batang adalah sikap manusia yang harus tegak lurus dengan pondasi agama itu sendiri. Leher yang bolong ini adalah pulau-pulau nusantara yang menyatu dengan rangka diikat benang. Benang ini mengikat rangka, artinya semua kepulauan nusantara diikat oleh negara. Kepala ini melambangkan orang-orang gede yang melindungi rakyat kecil. Setengah pucuk adalah Presiden lalu pucuknya adalah Tuhan. Jadi Mbah Rasimun filosofinya adalah Indonesia yang memayungi banyak orang yang sikapnya harus setia pada Tuhan dan negaranya.

Rasimun: Ya ngene iki ku (ya seperti inilah ku). Tidak akan tembus hujan meski dari kertas sampul. Ada ramuan khususnya.

Nyalanya: Apa ada orang-orang yang tahu bahwa Mbah Rasimun adalah pegiat yang juga seorang pejuang?

Rasimun: Tahun lalu itu pernah dapat penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta waktu Festival Payung di sana. Selebihnya enggak ada yang tahu. Negara saja tidak tahu saya ini pejuang. Tapi berkat ini sudah sering ke luar negeri, ke mana-mana diundang ke negara lain. Malah mereka yang menghargai.



Genre:

Tema: