Perempuan di Tepi Tebing

Dwi Ardiyanti

Sejak -19 aku harus bolak-balik ke . Dari afdeling delapan ke jaraknya cukup jauh. Hampir setiap hari aku diantar suami sampai setengah perjalanan lalu selanjutnya nebeng teman. Maklum, suamiku tidak bisa izin di pagi hari jadinya hanya bisa mengantar setengah perjalanan. Pegal sering datang sambil menggendong selama perjalanan. Pulang melempar tubuh ke kasur aku buang jauh-jauh harus memasak untuk makan malam.

Fineartamerica.com (Painting by Laura LeeZanghetti)

Setiap hari aku melihat pemandangan yang sama. Paling menarik perhatianku seorang remaja perempuan berambut panjang berambut panjang hitam kecoklatan selalu duduk di tepi tebing Afdeling 8 yang menjorok ke arah sungai. Sudah satu bulan aku melihat dia. Mulanya aku selalu bertanya-tanya apa yang dia lakukan di sana. Kadang sendiri menatap ponselnya, kadang bersama - di sebelahnya.

Hingga suatu hari aku tahu remaja itu bernama Dela, murid SMP Tenera. Dela selalu duduk menghadap tebing sedang mencari sinyal untuk ponselnya agar tetap bisa berkomunikasi dan belajar online. Setiap hari dia menunggu tugas dari yang dikirimkan melalui ponsel lalu mengirimkannya lagi.

Mengetahui itu rasa was-was plus pikiran yang tidak-tidak berganti kekaguman. Dela tidak kehilangan semangat belajar meski harus berhadapan dengan bahaya di tebing. Semangatnya memberi kekuatan untuk menghadapi keadaan. Saat ini aku mulai terbiasa dengan lelahku dan aku percaya rencana tuhan selalu baik laiknya hujan setelah .



Genre: Nonfiksi

Tema: Covid-19