Phobia Bola, Aku Nonton Futsal Sambil Tutup Mata

Dok Anxiety
Dok Anxiety

Aku ini adalah seorang yang sangat takut dengan bola. Awal phobia ini muncul ketika Aku berusia 12 tahun, tepatnya saat kelas enam SD. Waktu itu guru olahraga kami mau mengambil nilai praktik bermain voli. Aku sebenarnya tidak begitu suka dengan voli tapi aku mencoba menyukainya dengan belajar di rumah sebelum ujian praktik itu.

Tibalah waktunya pengambilan nilai. Aku main bersama teman-temanku. Saat aku sedang main tiba-tiba wajahku kena bola dari lapangan seberang. “Duakk”!! Rasanya sakit sekali. Wajahku pedas lalu aku menangis kencang. Sejak kejadian itu sampai sekarang aku takut kalau lihat bola, terutama yang dipakai olahraga.

Phobiaku itu juga yang membuat jantungku berdetak kencang di Liga Futsal SMA Tenera. Pertandingan futsal antarkelas itu sangat ramai karena masing-masing siswa dan siswi mendukung tim dari kelasnya masing-masing dengan yel-yel membahana. Hari ini aku degdegan dobel, seperti orang jantungan. Gugup ketika gawang kelasku kebobolan dari pemain kelas lain lalu kalah. Degdegan yang kedua takut kena bola.

Jadi pas bolanya mendatangi kami ke pinggir lapangan, aku langsung tutup mukaku rapat-rapat. Aku tanya apa bolanya sudah pergi atau belum ke temanku di samping. Kalau dijawab sudah, aku melepas tangan dari mukaku. Kalau bolanya datang lagi aku tutup lagi wajahku. Begitu terus akunya sambil memberi dukungan ke tim.

Dalam hati aku sebenarnya ingin sekali masuk lapangan lalu bermain futsal. Betapa bahagianya ketika kita diberi kepercayaan terjun ke lapangan bukan sebagai wasit atau asisten wasit tapi sebagai pemain. Lapangannya hijau, warna favoritku. Tiang gawang putih dengan jaring berwarna hijau seolah mengatakan mereka siap menerima bola. Tapi, apa daya aku kan phobia bola.

Melvina Marentha Manurung
SMA Tenera



Genre:

Tema: