Salah Kirim SMS Berujung Petaka

Muis Indrawan

Di usia belasan aku adalah yang songong. Aku begitu percaya diri terhadap diri sendiri meski fisikku tak sedap dipandang. Badanku saat , apalagi pas kelas sembilan penuh lemak hingga membuat perutku seperti gelombang ombak yang siap menghantam karang. Tapi lemak-lemak itu membuat aku pede sekali mendekati sampai ditolak berkali-kali. Tapi namanya manusia nasibnya kadang di atas kadang di bawah, begitu juga kisah cinta ku.

Dok Wikihow

Saat penerimaan siswa baru saat itu aku menjabat anggota Osis di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di desaku. Di tengah Masa Orientasi Sekolah (MOS) mataku tertuju ke seorang yang penampilannya sungguh menarik. Ia tinggi, berkulit putih, dan berambul ikal. Selepas selesai MOS dengan bahagiannya aku mendapatkan nomor ponselnya. Tanpa pikir panjang aku menghubunginnya lalu kami chatting berminggu-minggu. Singkat cerita akhirnya kami jadian.

Sebenarnya pada saat itu banyak sekali yang dekat denganku. Aku membuat banyak nama kesayangan untuk mereka itu di kontak ponselku. Panggilan ‘Ay’ untuk si A, ‘Dek’ untuk si B, dan ‘Mbem’ untuk si C. Pacarku sendiri aku panggil ‘yank’. Ternyata punya itu sangat menyenangkan, semua terasa beda. Rasanya pertama kali bertemu atau jalan bareng rasanya seperti keseterum, adanya gemetaran seperti orang kelaparan. Saat chatting aku cerewet tapi pas bertemu, satu kata terucap aja susah hehehee…

Pada hari minggu mengajaknya kencan ke Pusat Pelatihan Gajah (PLG). Pacarku mau tapi dengan syarat tidak pergi berdua. Tak masalah aku bilang, karena kalau berduaan orang ketiganya pasti setan. Aku pilih baju yang licin lalu menyisir rambutku sampai klimis. Tidak lupa aku pakai parfum yang wanginya bisa membakar satu perkampungan. Karena takut ketahuan komunikasi dengan lain, sebelum menjemputnya aku hapus semua chat dengan teman-teman ku. Hanya si ‘Mbem’ yang aku pamiti karena selain menyukaiku dia juga tidak mempermasalahkan statusku.

“Mbem itu siapa? Kurang ajar kamu mas sudah memainkan aku. PUTUS”

Aku kaget bukan main melihat SMS dari ku beberapa menit setelah mengirim pesan untuk si Mbem. Membaca pesan itu wajahku yang tadinya senang berubah menjadi merah seperti tomat busuk. Lalu aku tanya di mana salahku.

“Baca saja sendiri,” balasnya.

Wahhhh pas aku cek inbox HP ternyata aku salah kirim, yang tadinya mau aku kirim ke Mbem malah terkirim ke ku. Gagal deh kencan pertamaku dengan . Teks ‘Mbem sayang mamas jalan dulu ya’ jadi malapetaka buat hubunganku.



Genre: Nonfiksi

Tema: memori