Setelah Minggat dari Rumah

Dok.i.ytimg

Waktu kecil saya pernah kabur dari . Kalau enggak salah saat itu kelas tiga SD. Saya kabur ke teman bapak di Banjarmasin yang berjarak 34 kilometer dari naik sepeda. Gara-garanya saya ngambek karena dikunci dalam gudang karena ketahuan bolos sekolah lalu memakai uang SPP untuk main dingdong. Dalam gudang saya diikat di kursi pakai kabel antena televisi yang sudah tidak terpakai. Waktu itu saya pikir hukuman itu kejam sekali terhadap anak. Tapi begitulah gaya orang tua yang dibesarkan di era Orde Baru (Orba). Keras dan disipilin, khas militer.

Saya sempat tanya ke bapak dan ibu kenapa saya diikat di kursi. Mereka bilang agar saya jera tidak bolos sekolah lagi. Biaya sekolah itu mahal apalagi saat zaman Orba. Apalagi gaji guru hasil program transmigrasi kecil sekali. Jangankan bayar uang sekolah, untuk makan saja irit sekali. Saya termasuk beruntung orang tua mau menyisihkan sebagian gaji untuk uang sekolah saya. Jadi saya pikir, bapak pantas marah lalu menggunakan cara itu biar saya jera. Butuh waktu panjang menyadarinya.

Jadi ceritanya bapak dapat surat dari sekolah soal ketidakhadiran saya selama tiga hari plus terlambatnya pembayaran uang SPP. Sepulang dari dingdong siang itu saya langsung dipukul sama bapak karena telah menipu orang tua. Ibu juga memarahi saya habis-habisan. Saking jengkelnya mereka mengunci saya di gudang malam harinya. Paginya saya tidak boleh sekolah lalu diikat di kursi dalam gudang. Ikatannya tidak kencang, dengan mudah bisa saya lepaskan. Pagi itu saya dendam sekali dengan perlakuan orang tua lalu tiba-tiba munculah niat pergi dari .

Saya bikin rencana panjang. Setelah dari teman bapak di Banjarmasin paginya saya akan melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Saya akan cari masjid atau di emperan toko beristirahat. Biar saja tidak bertemu mereka lagi. Biar saja jadi pengemis. Modal kabur cuma termos plastik berisi air yang saya gantungkan di setang sepeda. Di tengah terik saya genjot sepeda pelan-pelan. Kecamuk dendam perlahan tenang lalu terbayanglah momen-momen bahagia bersama bapak dan ibu. Mata mulai berkaca-kaca membayangkan tidak akan bertemu mereka lagi. Tapi tidak apa-apa toh orang tua masih punya anak satu lagi, adikku. Tekadku sudah bulat, pergi dari kehidupan mereka.

Jalan raya menuju Banjarmasin kala itu dikuasai truk pengangkut batu bara. Di kanan dan kiri jalan belum banyak bangunan. Hanya tanah gambut bekas tanaman padi yang gagal tumbuh. Sebagian besar truk tidak menutup bak berisi tanah dan batu bara. Tiap kali disalip truk, debu dar bak truk terbang mengenai mata saya. Di daerah Gambut, 15 kilometer dari Banjarmasin, termos saya jatuh, airnya tumpah. Untunglah di sana banyak warung tenda di sisi jalan. Gambut dulunya memang jadi tempat istirahat sopir truk. Demi membasahi tenggorokan yang sudah kering saya nekat minta air putih ke warung tenda. Satu warung menolak karena saya tidak punya uang. Penjual di warung kedua, tidak mempedulikan saya. Syukurlah ada sopir truk yang membelikan saya air putih.

Saya sampai di teman bapak sekitar jam satu siang. Tiga jam perjalanan naik sepeda bikin capek ternyata, baju saya basah karena keringat. Mereka sangat terkejut melihat saya. Saya memeluk teman bapak sambil menangis. Saya ceritakan apa yang terjadi sambil menangis pula. Mereka memberi saya air putih lalu disuruh mandi. Saya dipinjami pakaian anak mereka. Namanya Opik, seusia dengan saya. Saya makan lahap sekali siang itu. Teman bapak tidak menanyakan apa-apa lagi soal bapak dan ibu. Saya disuruh tidur siang lalu sorenya diajak main bombom car di Mitra Plaza. Malamnya saya menemani Opik belajar. Kebetulan pelajarannya sama. Saya kerjakan PR-nya, hitung-hitung balas budi sudah dibolehkan menginap.

Paginya saya pamitan ke teman bapak mau melanjutkan perjalanan tapi tidak dibolehkan. Kata mereka tunggu Opik pulang sekolah dulu baru boleh pamitan. Saya menurut lalu duduk-duduk di teras saja. Tiba-tiba bapak dan ibu muncul. Saya lari ke luar lalu dikejar bapak. Saya tertangkap, kalah langkah sama bapak.

“Ampun Pah, ampun Pah,” rengek saya lalu tiarap.

Saya kira mau dipukul lagi tapi bapak ternyata memeluk lalu menciumi kening saya berulang kali. Ibu mendekat lalu membersihkan pakaian saya yang kotor. “Syukur pakde telepon, mama kira kamu kenapa-kenapa. Yuke sampai menanyai kamu terus malam tadi, sampai enggak tidur dia. Jangan begitu lah, mama minta maaf,” kata ibu sambil menepok dada saya membersihkan pasir yang menempel.

Setelah azan Zuhur kami pulang. Bapak menggendong sepeda saya menuju terminal angkot yang tidak jauh dari temannya. Sopir tidak mau mengikat sepeda di belakang angkot. Kalau mau bapak harus menggendongnya di kursi depan. Harus bayar dobel kata sopirnya. Sepedanya dihitung penumpang. Syukurlah sepeda saya tidak besar jadi bisa masuk di kursi depan, dipangku bapak sedangkan saya, ibu, dan adik di kursi tengah. Sampai di Banjarbaru, bapak dan ibu naik becak menuju ke sedangkan saya naik sepeda. Adikku ikut membonceng saya. Katanya dia mau jagain saya biar tidak kabur lagi.

“Nanti kakak kabur lagi, aku mau ikut bonceng,” katanya lalu memegang pinggang saya kuat sekali.

Setelah kejadian itu bapak dan ibu lebih lunak. Mereka juga memberitahu bagaimana kondisi ekonomi dan kerja keras mereka untuk menyekolahkan dan mendidik anak. Butuh dua tahun saya bisa membalas mereka dengan menjadi pelajar teladan di kelas 5. Saya maju ke tingkat nasional lalu berhasil duduk di peringkat tiga. Saya tidak pernah main dingdong lagi. Bapak mengenalkan saya dengan mainan yang lebih asyik: buku dan musik. Mainan itu membuat saya jadi anak yang berbeda, sampai sekarang.

Tukang Kebun



Genre:

Tema: