Setyaningsih Bilik Literasi: Toko Buku di Indonesia Masih “Seram”

Literasi anak
Setyaningsih (paling kiri) bersama para pegiat literasi anak (Foto: Dok.Setyaningsih)

Kak Setyaningsih bukan orang baru di dunia anak. Meski belum setenar Si Komo dan pengasuhnya, pegiat literasi anak ini sudah menulis ratusan esai tentang dunia anak-anak. Tulisannya kerap dimuat di Ora Weruh, Radar Surabaya, Joglosemar, pos, Koran Tempo, Jawapos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Kompas, Republika, dan Bukulah!.

Penulis asal Boyolali, Jawa Tengah, yang kini aktif di ini juga punya blog maosbocah.wordpress.com sebagai tempatnya menuangkan apa-apa yang adalam pikirannya soal anak-anak. Kak Setyaningsih sejauh ini sudah menerbitkan buku kumpulan esai berjudul Melulu Buku dan Bermula Buku (2015) dan Berakhir Telepon (2016).

Di tengah kesibukannya, Nyalanya.com sukses menyandera Kak Setyaningsih untuk diwawancara. Berikut petikan wawancara dengan penulis yang memitoskan foto pribadi ini.

Halo Kak Setyaningsih, terima kasih sudah mau dipinjam waktunya sama Nyalanya.com. Kak sejak kapan sih suka sama dunia anak-anak khususnya bacaan anak?

Wah santai saja Nyalanya. Santai pokoknya. Aku sih “tidak sengaja” membaca sejak kecil. Khusus ke pustaka anak, sekitar tahun 2014 atau 2015. Anggaplah aku dikerjai Pak Kabut alias Bandung Mawardi, penjaga di , yang menjerumuskan ke obrolan anak-anak yang ajaib. Saat itu aku belum menekuni penulisan tentang anak, tapi menggarap tema keluarga, lalu baru belajar tentang anak-anak.

Sudah berapa banyak sih esai atau buku tentang anak yang Kak Setyaningsih tulis terus menulis tentang apa saja sih?

Aduh, aku enggak bisa menyebut jumlah pastinya. Anggaplah belum sampai 200 tulisan, hahaha. Ada esai serius, apresiasi buku bacaan anak seperti di blog-ku, tulisan pengasuhan PAUD, dan resensi buku anak. Aku pernah menulis tentang iklan bacaan anak majalah lawas tahun 40-60an. Masa itu banyak propaganda buku bacaan sekaligus buku pelajaran. Aku juga menulis anak-anak yang lahir tumbuh di keluarga buku, anak, dan ruang publik.

Eh iya, Blog Maosbocah itu buat siapa sih sebenarnya? Kenapa nulis blog sih kan sekarang sudah ada Facebook dan media sosial lainnya?

Aku bikin Maosbocah karena di sana bisa dikatakan apresiasi ringan untuk siapapun. Memang di koran kesannya agak lebih berbobot secara kebahasaan dan tema. Tapi aku ingin terutama orangtua membaca. Sekarang, aku baru merasa betapa susahnya menulis anak dibaca untuk anak. Butuh pertaruhan untuk menulis sederhana tapi tidak menggampangkan.

Aku memulainya lewat penulisan apresiasi Buletin Obah yang berisi tulisan anak-anak Al Islam Jamsaren 2 . Dulu, aku bergantian dengan Naim, penulis dan ilustrator. Kami mengajar ekstra menulis di Jamsaren tiap Senin.

Kami penasaran, sudah menulis ratusan tulisan pasti koleksi buku bacaannya banyak banget ya? Ada pengalaman unik soal buku?

Haha, itu masih sedikit (jumlah tulisan). Melalui Pak Kabut, Aku pernah borong 230an eksemplar buku bacaan anak Orde Baru (Orba). Buku-buku itu udah “dibuang” ke loakan. Itu lho yang ada cap milik negara tidak diperdagangkan. Harganya semua sekitar Rp 250 ribu. Jadi satu Rp 1000. Proyek bombastis pengadaan buku anak Inpres Pak Harto (Presiden ke-2 RI) nasibnya begitu. Dari buku, kita jadi tahu bagaimana pemerintah membangun lewat penokohan anak. Anak Orde Baru harus teladan, baik berani rela berkorban dan berprestasi. Pokoknya selalu di jalan yang lurus.

Koleksi buku anak ada ratusan, tapi banyak yang bekas tentunya. Tahulah, harga buku anak baru pasti mahal. Seringnya bisa beli pas diskonan, hehehe. Buku anak baru tahun ini yang berhasil aku beli: cerita klasik Winnie The Pooh garapan A.A. Milne dua buku. Eropa dan Amerika selalu punya seri cerita berumur panjang. Aku pikir bagaimana dengan Indonesia? Masalah buku anak ini sempat disinggung Murti Bunanta di buku Masa Depan Anak-Anak. Moga enggak salah judul.

Banyak penulis anak atau pemerhati anak yang mendudukan mereka sebagai objek saja. Contohnya mereka mengukur anak dari sudut pandang dan batas yang diciptakan orang dewasa. Bagaimana Kak Setyaningsih tidak terjebak ke sana dan apa yang harus dilakukan orang-orang agar bisa memahami anak seutuhnya?

Saat belajar menulis dan mengobrol dengan anak-anak, aku selalu penasaran dengan apa yang mereka pikir. Bahasa, gerak, gestur, senyum, dan lain-lain. Rasa penasaran inilah yang membuatku antusias menghayati mereka. Bukan mereka harus selalu menyimak aku. Aku mau diajari anak-anak. Mereka berhak menegur atau tidak bersepakat denganku.

Anak-anak kini makin terakrabi dengan media sosial. Fungsi medsos sekarang sudah luas banget, salah satunya sebagai diary. Menurut Mbak, bagaimana platform tersebut bisa digunakan untuk memfasilitasi budaya menulis anak sekaligus menyingkirkan ketakutan orang tua ketika anak-anak mereka mulai bertanya soal internet?

Aku tidak terlalu yakin kalau orang tua bisa menjadikan internet buat mengarahkan anak berliterasi. Godaan main game dan bermedsos yang tidak bergizi terlalu kuat. Gini aja deh, akrabkan dulu anak dengan kertas dan pensil dan buku cetak dan koran. Bahkan biarpun buat mainan. Itu tindakan yang lebih manusiawi daripada langsung ke teknologi yang labil atau sekadar tren. Banyak orang tua yang mengandalkan lagu atau cerita dalam aplikasi. Anak jadi enggak merasa memiliki raga mulut orangtua sebagai literasi pertamanya.

Beberapa koleksi buku Bilik Literasi (Dok.Setyaningsih)
Beberapa koleksi buku (Dok.Setyaningsih)

Di Jepang ada jurus Sekiguchi di televisi dan Tachiyomi di toko buku di mana Sekiguchi merupakan acara buku di televisi sedangkan Tachiyomi menggratiskan membaca buku di toko buku. Di indonesia, peluang itu masih ada enggak? Atau apakah saat ini akan menggunakan platform visual gerak untuk menggiatkan literasi?

Indonesia bikin ruang toko buku yang menyenangkan bagi anak saja susah. Toko buku masih seram. Petugasnya serius. Ada mata kamera cctv seram. Enggak ada tempat duduk apalagi selonjoran, hehehe. Kami bikin rumah keluarga penuh buku saja lah.  Di Bilik ada satu kamar khusus buku anak. Koleksi bukunya Abad dan Sabda, anak-anaknya mas Bandung. Anak-anak sekitar sudah banyak yang main dan pinjam. Bisa diberantakin, bisa baca sambil selonjoran atau tengkurap.

Sampai sekarang Bilik masih mengandalkan mulut ceriwis pintu dunia. Kita banyak cerita. Misal pamer, kita akan pamer buku, pindaian majalah atau mengajak anak nonton film dan mendengar lagu. Yang pasti mulut enggak boleh kalah sama mesin.

Berdayakan mulut orangtua. Paksa Bapak Ibu jadi cerewet bercerita bukan beranjuran moralis. Kita tidak bisa menambah beban kerja pemerintah pemangku literasi buat datang ke rumah-rumah lalu memberikan buku dan mengajurkan orangtua membacakan cerita meski tahun 2015 kemarin Menteri Pendidikan saat itu berkoar 10 menit membacakan cerita untuk anak. Siapa yang menjamin? Apa Menteri mau datang ke rumah dan memastikan? Sibuk lah ya.. Mungkin bisa dimulai dari keluarga. Ajak anak ke toko buku, kasih tahu tetangga, Mbokde, Pakde, guru, Kakak, Adik, teman,  keponakan lalu rekomendasi buku buat bacaan.

Semarakkan kisah di keluarga. Syukur Ibu-Ibu muda yang ikut PKK mau memopulerkan literasi, enggak cuma sibuk bermedsos atau jualan online. Keluarga harus mengajari anak memiliki buku. Bukan pinjam apalagi menunggu pinjaman buku pelajaran sekolah.

Lantas kenapa sih anak-anak sekarang harus tetap doyan baca dan menulis di luar sekolah?

Kenapa membaca, aku kutip kata temanku, Mbak Opi yang bersahaja dan keren saja ya. Kira-kira begini, buku dan membaca bikin kita bisa ke maja saja. Kelak, suatu hari nanti siapa tahu tempat yang cuma bisa kita datengi lewat buku benar-benar kita datangi dan jika kita memang tidak bisa ke mana pun, kita tidak jadi orang yang terlalu kecewa atau patah hati. Kita sudah pergi dengan buku. Buku bukan jendela, kalo jendela kita cuma bisa melongok. Lompat pun pasti dimarahi. Apalagi dobrak. Biar buku jadi belantara, gerbang, hutan, dan semesta.

Oh iya, kan kemarin main ke sekolah-sekolah di Bengkulu Utara, ceritakan dong apa yang paling menarik di sana yang belum pernah ditemukan di banyak tempat yang pernah Mbak datangi saat berinteraksi dengan anak-anak?

Ketika di TK, bocah-bocah menyimak cerita dari Mbak Naim. Pas itu, Mbak Naim tanya ke anak-anak, apa aja jenis sayuran. Ada anak yang teriak “Pucuk Ubi”. Aku tidak tau apa itu. Seorang guru tahu kebingunganku lalu mengatakan kalau itu daun singkong. Aku ketawa.

Prosesi anak berbahasa sampai sekarang selalu membuatku takjub. Aku punya ponakan 2,5 tahun yang lagi heboh bereksperimen dengan bahasa. Dia enggak hanya menangkap dengan cepat tapi sudah bisa mempraktikkan bahkan mengujikan pada lawan bicaranya tanpa takut. Bahasa jadi sebentuk kebebasan sebelum mereka tidak bebas lagi, terutama karena beban sekolah.

Di Jawa tidak ada penyebutan Pucuk Ubi secara khusus sebagai sayur. Pasti nyebutnya daun singkong. Aku juga senang ketemu anak-anak yang seru. Terutama saat diminta berbagi cerita, ya ngomong saja kayak ngomong sama teman.



Genre:

Tema: