Sondy Yanuarta: Autis Bukan Penyakit!

Sondy Yanuarta

Selain menjadi manajer band Archiblues, Sondy Yanuarta juga seorang guru di Sekolah Luar Biasa Autistik Fajar Nugraha. Sudah lima tahun dia mengajar di sekolah khusus anak yang beralamat di Jalan Seturan II Yogyakarta itu. Sondy berbagi pengalaman dan informasi selama mengajar anak-anak ke Tukang Kebun, dan atas izinnya obrolan singkat di sebuah warung tahu di Yogyakarta itu boleh dimasukan ke dalam rubrik wawancara .com.

Nyalanya (N): Kak Sondy, ceritakan awal mula bisa mengajar di Fajar Nugraha dong.
Sondy Yanudarta (S): Aku di sana sejak 2015. Dulu aku kuliah di Pendidikan Luar Biasa (PLB) jadinya memang mau ke tempat yang sesuai sama pendidikanku. Jadilah di Fajar Nugraha dan betah banget sampai sekarang.

N: Berarti selama di sana ilmu kuliahnya terpakai sekali ya?
S: Nah lucunya yang aku temukan sedikit berbeda, ada sedikit jarak antara teori yang aku pelajari di kampus dengan realita. Teori yang aku dapat tidak bisa mengimbangi anak-anak. Soalnya perkembangan anak dinamis banget. Aku pernah mendatangi peneliti luar negeri, biasa mau nambah ilmu, terus dia bilang ‘Son negaramu itu sudah ketinggalan 25 tahun dari negara lain soal teori. Itu yang terjadi, enggak semuanya bisa diaplikasikan.

N: Wah, memang realitanya bagaimana Kak di sekolah? Apakah anak satu dan lainnya itu berbeda?
S: Iya betul. karakteristik anak satu sama lain itu jauh beda, enggak bisa disamakan. Treatmen ke tiap murid beda-beda meski mereka satu kelas. Kita wajib punya tips dan trik sendiri, kalau orang Jawa bilang ngerti seratane (mengerti celahnya). Masalahnya juga berbeda-beda ketika pertama kali masuk sekolah.

N: Ada alur tertentu dong berarti yang dilakukan sekolah Fajar Nugraha saat dan ketika belajar dengan teman-teman ?
S: Alurnya itu dari anak datang di usia 3 tahun, kebanyakan 3 tahun sih karena bisa terdeteksi di usia dua tahun. Masalahnya beda-beda, tergantung hasil diagnosa awal. Nah, pas masuk kami selalu minta diagnosa dari dokter atau rumah sakit soal tumbuh kembang mereka plus dokumen dan lembar pengamatan dari psikolog. Lalu kami lakukan tes juga misalnya penglihatan atau pendengaran. Ada beberapa anak yang di desibel tertentu enggak nyaman. Kalau udah nggak nyaman bisa tantrum. Begitu juga di penglihatan, ada yang enggak suka dengan benda berkilau dan lain-lain. Saat diagnosanya sudah dapat kami asesmen ulang selama tiga bulan habis itu evaluasi lalu bikin program belajar untuk individu. Individual Educational Program, program ini yang diberikan ke anak.

N: Eh iya, sebenarnya itu gangguan apa sih?
S: Yang harus diingat adalah, itu keadaan, bukan penyakit. Kalau penyakit itu ya macam batuk, flu, minum obat sembuh. Autis itu bukan penyakit, tapi masih banyak yang salah sangka. Autis itu ada dua, hiperaktif dan hipo. Hipo lebih yang diam. Autis gangguannya perfasif, jadi menyeluruh dari motorik, komunikasi, kognitif, dan sosialisasinya. Di Fajar Nugraha, untuk anak-anak awal diintervensi dua hal dulu yaitu kepatuhan dan kontak mata. Kontak mata itu sulit, bisa lima detik saja sudah bagus. Kalau keduanya sudah dapat mau dikasih materi yang lainnya sudah enak. Tapi prosesnya panjang. Ada yang cepat ada yang lama banget.

N: Materi yang biasa Kak Sondy dan teman-teman lakukan itu seperti apa? Tiap kelas berbeda ya?
S: Pada dasarnya ada pembagian semacam kelas, tapi lebih fleksibel tidak berpatokan pada usia dan kemampuan. Satu kelas usia dan kemampuannya beda-beda. Contoh dua guru tiga siswa (jumlah pengajar 12) kebanyakan untuk anak baru (3-6 tahun) 1 guru 1 anak, ketika ada perkembangan komunikasi, koginitif dll baru masuk ke 2 guru 3 siswa. Terus ketika perkembangan semuanya bagus, enggak sampai 14 tahun kami rekomendasikan ke sekolah inklusi.

N: Terus materinya apa saja?
S: Programnya di sana ada kognitif, psikomotor, sosialiasi (pergi ke tempat ramai: pasar, taman bermain) dikemas dalam satu terapi. Soalnya anak itu kaku, kalau datang ke tempat yang belum pernah didatengin mereka enggak nyaman, adaptasinya sulit. Jadi sosialisai itu bentuk terapi untuk bikin mereka fleksibel. Kalau anak-anak umumnya kurang nyaman berada di lingkungan yang baru jadi kami kemas sebagai terapi yang kesulitan adaptasi kami ajak ke tempat yang ramai. Agar anak itu belajar beradaptasi, mereka bisa karena terbiasa. Pas pertama kali dibawa ke sana, ada yang marah ada yang menangis. Satu bulan sekali lah kami ke sana. Seminggu tiga kali tiap pagi kami ajak jalan-jalan sekitar komplek. Tujuannya untuk membiasakan anak bertemu dengan orang asing setiap hari, sebagai terapi juga. Ada juga terapi Aquatik, di kolam renang. Tujuannya lebih ke percaya diri dan fisik, melatih koordinasi tangan dan kakinya. Terapi itu juga bisa memancing anak untuk ngomong. Ada beberapa kasus di rumah dan sekolah enggak mau ngomong, pas diajak ke air dangkal dia malah ngomong, panik, ‘tolong…toloong’ begitu.

N: Hubungan dengan orang tua murid bagaimana? Apakah ada semacam laporan perkembangan setiap hari untuk mereka?
S: Setiap hari untuk siswa kami bawakan seperti buku penghubung. Di sana tertera aktivitas, perkembangan, capaiannya seperti apa. Kami tulis deskripsinya sehingga orang tua bisa baca sehingga kayak buku harian. Banyak orang tua yang berpikirnya sembuh. Anak berkebutuhan khusus itu keadaan, bukan penyakit. Malah ada yang dirukiyah saking pengennya sembuh. Stigma awam, ada yang bilang kesambet, santet dan lain-lain. Terus ada juga yang pasrah, kasih anaknya ke sekolah terus enggak mau tahu perkembangannya. Macam-macam. Sekali lagi jangan anggap itu penyakit ya teman-teman Nyalanya.



Genre:

Tema: wawancara