Sungai Kuari Serupa Pasar Kaget Saat Kemarau

Dok. Twitter @anakdesaid

Sungai Kuari di Putri Hijau serupa pasar kaget saat kemarau. Setiap pagi dan sore sungai ini sangat ramai karena warga sekitar mandi dan cuci baju di sana. Airnya jernih dan arusnya tidak deras. Wajar bila banyak orang yang mencuci, mandi, bahkan berenang di sana. Sungai Kuari juga jadi sumber mata air untuk menyiram bibit sawit di tempatku.

Setelah subuh banyak orang yang berlomba-lomba sampai ke sana. Rata-rata membawa tumpukan pakaian kotor. Sungai ini di pagi harinya dikuasai laki-laki, maksudnya lebih banyak bapak-bapak di sana. Mungkin saat pagi hari ada pembagian tugas. Bapak-bapak mencuci dan ambil air di Kuari sedangkan kaum Ibu menyiapkan sarapan dan bontot untuk dibawa ke kebun.

Sore hari barulah banyak ibu-ibu yang datang. Mereka kerjasama membawa tumpukkan baju kotor bersama suami dan anak-anak. Jangan salah, bagi anak-anak mandi di sungai itu malah menyenangkan, hiburan tersendiri bagi mereka. Seolah-olah sedang berenang di kolam renang. Seperti ketiga anak laki-lakiku itu. Mereka merayuku dengan banyak jurus agar kami mandi di sungai setelah aku pulang bekerja.

“Papa, papa, kita mandi di Kuari saja biar air kita untuk besok masih banyak,” anakku Tonga mengeluarkan rayuan ke papanya.

Papanya menuruti mereka dengan syarat mendapat ciuman Tonga. Anak sulungku yang sedang cuci piring bersorak kegirangan. Dia makin semangat membereskan cucian agar kami cepat ke Sungai Kuari. Anak bungsuku juga senang bukan main. “Hore..lenang..lenang,” katanya. Aku dan suami sangat senang melihat wajah-wajah bahagia mereka. Makin bahagia karena aku bisa mengurangi tumpukan pakaian kotor di rumah.

Hari itu kami kira berangkat kesorean tapi masih ada keluarga yang datang setelah kami. Ada Pak Anggiat Situmorang dan Bu Windya Sihombing yang ingin mencuci baju juga. Syukurlah ada Sungai Kuari. Kami masih bisa menikmati air bersih di tengah musim kemarau yang cukup panjang ini.

Donda Togatorop
Guru SMP Tenera



Genre:

Tema: