“Syalom,” Ucapku Agar Ada Sedikit Damai di Rumah Ini

Dok.Wikihow

Aku bingung kenapa semua orang sama ya? Semua suka uang dan berharap jadi kaya. Kalau banyak uang, meski dia salah tetap dianggap benar. Ada orang kaya baik yang ketika salah juga tetap dianggap wajar, karena ya uang itu tadi. Tapi ada satu temanku yang ternyata tidak begitu. Waktu itu aku kesal karena dia orang kaya. Di sekolah aku menjahili dia dari pagi sampai siang. Aku ketusin dan lain-lain.

Eh ternyata dia tidak marah dan tetap mengajak aku pulang bersama. Ya sudah deh, setelah aku kemasi barangku aku asyikin lagi temanku yang satu itu. Kami jalan kaki ke pulangnya. Sepanjang jalan kami ngobrol macam-macam sampai habis bahan. Terus aku keluarkan saja bahan becandaan yang krik..krik..biar dia tertawa sampai puas karena ketidaklucuan candaan. Ada kan bahan becanda yang sebenarnya enggak lucu tapi karena ketidaklucuan itu malah jadi lucu. Ah, apa sih..

Jejak kaki makin mendekati istanaku yang sedang memanas karena persoalan uang. Beberapa meter dari rumah, mulai terdengar suara keras orang marah yang hampir tiap hari aku dengar. “Makanya jangan beri-beri uang ke seseorang,” teriak bapak ke ibuku. Aku sudah tahu ada masalah apa.

“Syalom,” ucapku biar sedikit ada damai di rumah itu.

Bapakku terdiam mendengar salamku di depan mereka. Mungkin mereka ingin agar aku tidak tahu masalah yang ada dalam rumah yang panasnya menyamai matahari itu. Aku membiarkan mereka berpikir agar aku tidak tahu ada masalah apa. Sampai kamar aku keluarkan kotak bekal dari dalam tas. Kasur yang tak empuk menyambut tubuhku. Rebahan membuat pikiranku sedikit tenang walau aku masih terus memikirkan masalah keuangan dalam keluargaku. Aku harus beli karton, buku, spidol, dan pena untuk sekolah tapi mamak tidak punya uang.

Aku paksa diriku bangun dari tempat tidur, ganti baju, lalu makan siang. Ada kegiatan ekstra sore ini di sekolah dan aku harus datang. Di depan teman-teman dan guru aku memang terlihat ceria tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatiku.

Setelah pulang ekstra aku melihat mata mamaku berair. Di samping mama ada pamanku yang brengsek. Si brengsek itu tidak tahu diri, kerjaannya hanya minta uang pada mamaku tanpa mau kerja. Rasanya ingin aku tokok (pukul) kepala paman brengsek itu. Aku keluarkan botol minumku lalu aku taruh di atas piring kotor. Aku angkut mereka ke kamar mandi untuk dicuci. Air di musim kemarau ini lambat mengalir jadi aku harus menunggu sedikit lama di kamar mandi.

Aku menunggu air datang sambil melamun. Ketika sudah besar nanti aku tidak punya cita-cita selain ingin membawa mama dan bapakku jauh dari kesulitan hidup. Aku bawa mereka menjauh dari paman brengsek itu. Pada tuhan aku berdoa agar ada damai di rumah kami. Tapi aku harus punya banyak uang dulu untuk membahagiakan mereka bukan?

BNT
SMP Tenera



Genre:

Tema: