Tak Ada WC, Daun Talas pun Jadi

Bungaran Pardede

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itulah aku mengabdi di perkebunan. Pahit manisnya kehidupan di sini aku kecap dengan gembira. Kehidupan di perkebunan aku awali dengan kenekatan, berbekal baju yang melekat di badan aku sampai di Agricinal. Aku tidur di mana saja dengan tikar lusuh dan karung berisi kapas menopang kepalaku. Di awal kehidupanku dua kali makan nasi garam dalam satu hari sudah mewah sekali.

Istimewa

Kehidupanku tidak meningkat saat mulai terbiasa di perkebunan, malah makin kejam. Aku dihujat banyak orang karena menumpuk hutang. Akhirnya aku melamar pekerjaan menjadi tenaga perawat tanaman perkebunan. Tidak mudah ternyata karena aku harus belajar menggunakan arit dengan benar, menahan sengatan semut badak saat kakiku tak sengaja menginjak sarang mereka, dan yang paling sulit adalah memasang wajah gembira saat bekerja.

Menahun menjadi tenaga perawatan tantangannya bertambah. Dari tebing tinggi ke rumput berduri, pakis yang menyayat kulit, dan sergapan ular jadi tantangan selanjutnya. Komentar mandor yang pedas jadi makanan bergizi untuk telingaku setiap hari. Saat-saat paling mengerikan datang saat perut tak bisa lagi menahan BAB. Karena tidak ada WC bahkan air di perkebunan, kami nekat BAB di daun talas lalu membuangnya. Saat bau-bau tak sedap tercium kami pura-pura tidak tahu dan selalu melemparkan kesalahan ke teman-teman.

Saat bekerja kami sangat menantikan . Saat tubuh disiram rasanya api dalam hati padam lalu kami menjadi tenang. Di saat pula kami bisa mengingat masa . Gambar kami bertelanjang dada mandi bersama teman sering sekali muncul di tengah teriakan mandor. Ah, sangat menyenangkan sekali. Menjadi tenaga perawat bukan pilihan tapi pekerjaan inilah yang melahirkan kehidupan baru untukku di tempat ini.



Genre: Nonfiksi

Tema: memori