Tidak Semua Laki-Laki

Anik Febriyanti

Dok Wikihow

Waktu kecil aku sangat takut dengan berambut gondrong, apalagi dipirang. Aku menganggap gondrong atau pirang itu preman jahat yang mengerikan. Aku ingat sekali ada pengembala sapi berambut gondrong selalu lewat depan rumah, perawakannya yang menakutkan membuatku lari secepat kilat ke kamar. Jangankan bapak-bapak, kecil yang pirang saja sudah pasti aku cap nakal dan calon preman.

Aku tidak mau punya suami yang rambutnya gondrong, apalagi pirang, kataku dalam hati.

Jangan salah, doa ku terkabul tidak memiliki suami gondrong apalagi pirang, hehehe. Namun ada cerita menarik selama perjalanan berangkat kerja yang langsung mengubah pikiran tentang gondrong atau pirang.

Setiap hari aku berangkat kerja pukul 06.00 WIB bersama suamiku melintasi 5 desa naik motor tua. Setiap pagi aku selalu melihat seusia berambut gondrong dan dipiran. Hampir 1 bulan aku memperhatikan dia duduk di pinggir jalan menggendong bayi kira-kira umur 6 bulan. Bayi itu terlihat tenang dan nyaman di pangkuan gondrong itu.

Ternyata aku punya kesempatan untuk ngobrol dengan gondrong itu saat motor tua suamiku kehabisan bensin. Sembari menunggu tangki penuh, aku ajak ngobrol dia dan melemparkan banyak pertanyaan, mulai dari jam berapa bangun, kelas berapa, siapa yang digendongnya.

Jawaban gondrong itu menyentuh hatiku. Bayi itu adalah adiknya. Usai azan subuh dia menjaga adiknya sampai ibunya selesai membereskan rumah. “Kalau bukan saya siapa lagi yang jaga, saya kan sayang adik saya,” jawabnya menutup obrolan.

 Deeeg, jawabannya mengguncangku. Selama perjalanan ke tempat kerja aku merenung, biasanya seumuran dia jika tidak asik tidur sampai siang atau suka mengganggu adiknya sampai menangisTapi yang aku kutemukan pagi itu berbeda, pandanganku terhadap berambut gondrong sejak pagi itu mulai berbeda Nyatanya sifat dan sikap asli seseorang tidak ditentukan dari penampilannya.



Genre: Nonfiksi

Tema: Memori