Tragedi Covid Bersaudara di Desa

T.Apriyanti

Di sebuah desa Wuhan tinggalah kakak beradik bernama Covid Jingga dan Covid Merah. Mereka sudah lama yatim piatu. Sejak ditinggal orangtua, Covid Jingga dan Covid Merah selalu bersama-sama. Walaupun masih berusia di bawah dua belas tahun, mereka sudah bisa mandiri. Suatu hari Covid Jingga mengajak Covid Merah bermain petak umpet.

“Tapi sembunyi yang jauh ya,” jawab Covid Merah menerima tantangan saudaranya.
“Ayo, kita hompimpa! Ye, ye, aku menang,” teriak Covid Merah.
“Oke , aku jaga di sini !,” sambar Covid Jingga sambil menelungkupkan kedua lengannya menghadap dinding.

Covid merah berlari kencang sambil menggoda Covid Jingga. “Cari aku …cari aku..,“ teriaknya.

Saking kencangnya Merah berlari tanpa terasa ia memasuki jalan besar. Tanpa pikir panjang ia melompat ke bak sebuah mobil pick up yang melintas. “Gedebuk…gedebuk, aduh!” rintih Merah sambil meringis kesakitan. Di dalam mobil yang melaju kencang itu Covid sangat merasa senang karena Jingga bakal sulit menemukannya. Di tengah perasaan bahagia itu Covid Merah mengantuk lalu terlelap di antara barang-barang yang dibawa Sang Supir.

Sementara itu Jingga mencari Covid Merah ke mana-mana. Ia mencari ke halaman, berlari ke kebun lanjut ke pinggir jalan. Namun dia tak juga menemukan saudaranya. Covid jingga duduk di pinggir jalan karena kecapaian. “Ke mana ya Covid Merah ? Ah sudahlah, aku pulang saja, aku haus mau minum,” gumamnya. Lalu jingga berjalan pulang menuju rumah.

Mobil berhenti di kebun sayur dan buah. Seorang bapak turun lalu membawa sekarung sayur-sayuran dan buah yang sudah diikat petani sayur. Ketika Pak Tua itu mengangkat karung sayur ke bak mobil, ia terkejut melihat seorang anak tertidur.
“Hei, anak kecil, bangun! bangun !” tegur Pak Tua.
“Di mana ini Pak?”
“Kamu ngapain di sini? Turun! Awas!jangan di situ!” usir Pak Tua sambil menarik baju Covid Merah

Covid Merah ketakutan dengan amarah Pak Tua. Sambil menahan rasa ngeri, Covid Merah menjelaskan kenapa dia bisa dalam mobil Pak Tua lalu minta tolong agar dipulangkan ke rumahnya. Tiba-tiba Pak Tua bersin.

“Dekat kamu bapak jadi bersin.”

“Bapak, jangan usir saya, bawa saja kemana bapak pergi,” pinta merah sambil menangis.
“Apa kamu enggak punya orangtua?
“Ibu dan bapak saya sudah lama meninggal Pak, saya tinggal berdua dengan kakak saya di Wuhan”
Baiklah, kamu boleh ikut tapi harus bantu bapak kerja”. Lalu Covid Merah mengangkat satu karung sayur dan buah ke dalam mobil. Mereka berdua lalu menuju pasar untuk menjualan sayur dan buah.

Di sepanjang perjalanan Bapak Tua bercerita tentang kebun sayur dan buahnya. Setiap hari dia makan sayur dan dua atau tiga jenis buah. Covid Merah mendengarkan dengan seksama. Tak terasa mereka tiba di pasar, lalu mulai mengatur sayur dan buah di meja. Tidak sampai berjam-jam lamanya berjualan sayur dan buah laku. Mereka tersenyum dapat untung yang banyak. Covid Merah pun diberi uang dari kerja kerasnya namun dia tolak dengan sopan.

Pak Tua mengajak Merah ke rumahnya untuk makan bersama dengan keluarganya. Tiba-tiba Merah ingat dengan kakaknya Covid Jingga. Ia pun merengek ke Pak Tua supaya diantar pulang. Namun karena hari sudah malam, Pak Tua akan mengantar Covid Merah keesokan paginya. Saat hendak beristirahat, bersin Pak Tua makin menjadi-jadi. Tubuhnya mulai terserang demam. Lalu Pak Tua minum air hangat yang cukup plus suplemen vitamin C.

Paginya Pak tua mengajak anak-anaknya menyemprot desinfektan di dalam rumahnya. Pintu dan kaca jendela disemprot dengan riang gembira. Uap semprotan ini dihirup Covid Merah hingga membuat tubuhnya lemas. Kemudian pak tua pun menghampiri Merah dengan kondisi tubuh lemas. “Ayo Nak, bapak antar pulang,” ajak Pak Tua. Covid Merah yang tidak mereson tiba-tiba jatuh dari kursinya. Pak Tua bergegas membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun apa daya belum sampai di rumah sakit Covid Merah meninggal.

Keesokan harinya Pak Tua pergi mencari rumah Covid Merah. Tak lama ia berhasil menemukan rumah Merah yang kini sudah tak bernyawa itu. Dia kaget melihat sosok kurus berwajah sayu di dalam rumah. Covid Jingga yang lemah karena satu minggu tidak bertemu adiknya menyuruh Pak Tua masuk. Sebelum masuk, Pak Tua menyemprotkan disenfektan ke ruangan karena takut terkena kuman setelah melihat rumah Jingga sangat berantakan dan berdebu.

“Nak, kamu kenapa?” tanya Pak Tua sambil melihat tubuh anak itu sangat kurus dan lemah.
“Saya sakit Pak, sudah seminggu saya cari adik saya waktu main petak umpet, tapi sampai sekarang tidak bertemu”

Paktua tidak tega mengatakan kalau adiknya sudah meninggal. “Aduh..aduh Pak, napasku ,napasku, ah..ah, teriak lemah jingga dan akhirnya Covid Jingga pun meninggal. Begitulah akhirnya kedua saudara ini dikubur bersama.



Genre: Fiksi

Tema: Covid-19