Tragedi di Hari Kemerdekaan Indonesia

Hari itu aku bersama teman-temanku sedang sibuk berlatih paduan suara untuk tampil di hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 di bundaran TK Tenera. Tiba-tiba ada ribut-ribut. Kami melihat anak-anak berlarian lalu berkumpul di depan sekolah . Kelompok latihan paduan suara juga bubar karena sebagian besar anggota ke SD mau melihat peristiwa yang terjadi.

Beberapa menit kemudian bapak penjaga sekolah bernama Pak Jumadi datang menghampiri kami. Salah seorang bertanya ada apa ramai-ramai ke Pak Jum. Jawabannya ternyata peristiwa yang sering aku saksikan tiap hari.

“Ooooh itu bu anaknya Ibu Ririn Jatuh,” cerita Pak Jum.

Aku pikir ‘anaknya Bu Ririn’ seperti kata Pak Jum itu adalah salah satu anak muridku di kelas. Murid di kelas memang sering berantem atau terjatuh ketika bermain. Namanya juga anak-anak pasti banyak kejadian yang tidak terduga. Aku tidak langsung melihat anak muridku karena sudah ada beberapa orang dari kami yang melihat kejadian. Tidak lama kemudian sahabatku yang bernama Ibu Sutarti datang menghampiriku. Dia menarik tanganku, memelukku, lalu mengatakan sesuatu yang membuatku lemas tak berdatya.

“Ririn jangan sedih ya, jangan menangis, jangan cemas. Rin anakmu Hafidz..,”

Belum juga Ibu Sutarti selesai cerita aku langsung menuju tempat kejadian dengan perasaan kacau. Bukan anak muridku yang terjatuh karena bermain. Ternyata anak kandungku yang bernama Hafidz terjatuh dari bersama bapaknya, tepat di depan yang tidak jauh dari tempat kami latihan paduan suara. Motor yang ditumpangi Hafidz bersama bapaknya terbelah dua. Setang dan sok nya putus.

Bibir Hafidz penuh darah. Kepalanya lecet, kakinya luka. Bapaknya Hafidz juga lecet-lecet kaki dan tangannya. Aku dijemput temanku menyusul mereka ke Balai Pengobatan (BP). Sampai di sana anakku dikerumungi banyak orang. Selesai diberi obat dan dibersihkan darahnya segera kugendong Hafidz. Berhenti dia menangis lalu tertidur di pelukanku.

“Waktu jatuh Hafidz tidak menangis Bu. Aku di sana pas kejadian. Darahnya banyak sekali keluar dari mulutnya, banyak juga pasir di mulutnya. Bapaknya Hafidz menyedot darah dari mulut Hafidz sampai bersih. Tapi pasir-pasir dalam mulut di makannya,” cerita Pak Jum yang menemani kami.

Sedih sekali mendengar cerita Pak Jum padahal aku berada tidak jauh dari tempat kejadian. Anakku semakin hari semakin baik keadaannya meski selama dua hari dua malam tidak makan dan hanya minum air putih setetes demi setetes karena mulutnya yang bengkak besar. Bibir atas dan bibir bawahnya pecah karena terbentur batu. Hari demi hari keadaan anakku semakin baik.

Akhirnya hari tiba. Setelah selesai upacara berbagai perlombaanpun dimulai. Aku dan beberapa temanku mengikuti lomba Rangku Alu. Kami latihan hanya satu kali karena Hafidz yang masih dalam masa penyembuhan tidak bisa ditinggal. Tapi kami tampil dengan sangat percaya diri. Akhirnya teng teng teng …. Alhamdullilah kami juara, menang… hore!!! Asssseeeek …..

Ririn Mustika
Guru



Genre:

Tema: