Trik yang Harus Dimiliki Semua Guru

Ekawati SiregarE

Amal yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik. Rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga.

Guru
Dok.SMP 1 Tembilahan

Kalimat diatas aku baca dari status teman di facebook. Setelah membacanya, aku tersenyum lalu teringat ulah muridku beberapa hari yang lalu. Kejadiannya berawal ketika kami melaksanakan ulangan harian. Sebelum ulangan, aku mengingatkan agar anak-anak bersikap jujur dengan tidak mencontek.

“Bu, ini jam tangan Imooku, titip di meja ibu ya, ada kalkulatornya Bu,” kata muridku yang bermama Ima  yang langsung maju usai mendengar pesanku lalu meletakkan jam tangannya di atas meja.

Ulangan berlangsung tertib, beberapa anak bertanya tentang soal-soal yang tidak dimengerti. Satu persatu aku jelaskan, ketika waktu hampir selesai, aku mengingatkan agar memeriksa kembali jawaban mereka.

”Teng, teng, teng” lonceng tanda pulang berbunyi. Semua anak mengumpulkan hasil ulangannya. Ada yang bilang “ ayo cepat nanti kita ketinggalan mobil”.

“Gak usah buru-buru, mobilnya pasti menunggu kalian,” sahutku  

Lalu aku minta salah seorang anak memimpin doa pulang. Selesai berdoa, karena ini masa pandemi anak-anak tidak bersalaman denganku. Beberapa anak langsung berlari , tiba-tiba “bruk,” aku mendengar suara benda terjatuh, segera aku keluar kelas. Aku melihat Hasbi jatuh tergeletak di lantai, di sampingnya ada ember tempat cuci tangan yang  sudah pecah.

“Aduh Hasbi”, belum aku melanjutkan kalimatku Hasbi langsung menjawab, “aku didorong izul Bu. Aku jadi terjatuh dan menimpa ember Bu, embernya jadi pecah”.

“Ya sudah cepat bangkit, kamu cepat ke mobil sekolah nanti ketinggalan, tetapi ember yang pecah ini kamu dan izul harus bertanggung jawab menggantinya” kataku kepada Hasbi.

Kemudian aku kembali ke kelas untuk membersihkan kelas. Selesai menyapu aku memeriksa ponselku .Ada satu pesan masuk di grup WhatsApp orang tua murid. Orang Tua Ima mengirim pesan agar aku menyimpan jam tangan yang sebelum ulangan dititipkan karena Ima lupa membawa pulang.

Sontak aku teringat jam tangan yang dititipkan Ima tadi kepadaku.Aku melotot ke mejaku, tidak ada lagi jam. Ah, mungkin terjatuh di lantai pikirku. Aku menunduk memeriksa setiap sudut lantai bawah meja, namun tak ada pula jamnya di sana. Setiap laci meja siswa aku periksa, siapa tahu ada yang jahil menyembunyikan  jam tangan itu. Hasilnya sama saja. 

Aku menyimpulkan jam tangan itu diambil oleh salah seorang murid. Kejadian itu aku ceritakan kepada Bu Is, salah satu guru senior di SD Tenera. Bu Is ternyata punya pengalaman yang sama denganku. Saran Bu Is, aku menginterogasi anak dengan kalimat bujukan atau rayuan bukan ancaman.

Keesokan harinya seperti biasanya sebelum lonceng masuk berbunyi aku sudah masuk ke kelas untuk menyapa dan mengambil buku tugas siswa. Rama, salah seorang murid datang lebih awal diikuti siswa lain. Setelah menyapa mereka aku mulai menjalankan misiku untuk mencari tahu siapa yang sudah mengambil jam tangannya Ima kemarin. 

“Ibu heran loh, mengapa ya jam tangannya Ima bisa hilang, padahal kemarin  ibu letakkan di atas meja ini,” sindirku.. 

Aku pun melaksanakan strategi selanjutnya. “Ibu guru yakin pasti di antara teman-teman ini yang menyimpan jam tangannya Ima,  siapa yang memberi tahu, pasti ibu guru senang sekali, nanti akan ibu beri hadiah. Hadiahnya apa ya, oh, ibu guru nanti akan belikan jam tangan kepada siapa yang menyimpankan jam tangan Ima,” pancingku.

Tiba-tiba Joni berdiri sambil mengacungkan jarinya “Aku Bu guru, kemarin waktu mau pulang aku lihat jam tangan Ima di meja Bu guru, jadi aku ambil, aku simpank biar tidak hilang,” kata Joni  dengan suara lantang.

Aku sedikit kaget, tetapi aku tahan emosi. Aku minta agar Joni membawa jam tangan Ima ke sekolah besok karena dia tidak membawanya. “Oke Joni , karena sudah jujur kepada ibu guru, besok Joni  bawakan jam tangannya ima ya! Joni  nanti akan ibu guru belikan jam tangan. Joni  mau warna apa”? Tanyaku.

“Mau warna biru bu guru”jawab Joni  dengan wajah ceria.

Akupun tersenyum lega karena jam tangan Ima sudah ditemukan . Dalam hatiku sebenarnya tindakan ku ini kurang tepat alias salah. Joni yang bersalah jadi tidak merasa bersalah, malah aku beri hadiah. Tetapi aku berharap dengan membuat hati Joni bahagia, dia mau mendengarkan semua nasehatku. Nanti pelan-pelan aku bisa mendidik Joni menjadi anak yang jujur.



Genre: Nonfiksi

Tema: Sekolah