Terbentur, Terbentur, Terbentuk!

Dok Wikihow

Ambisiku terbentur dengan ketetapan Tuhan. Usaha dan doa sudah aku lakukan tetapi memang Tuhan belum berkehendak. 

Sejak tahun Sekolah Sepak Bola (SSB) Tenera terbentuk tahun 2022, prestasi terbaik saya dua kali membawa mereka tiga besar. SSB Tenera menempati peringkat dua dan tiga di kompetisi. Tahun 2024 kemarin juga begitu. Kadang menggerutu dalam hati, oh Tuhan, anak-anak kami sudah siap juara satu. Aku tak tega melihat air mata terus membasahi pipi mereka.

Kepedihan itu terjadi berulang kali. Harapan kami lolos ke putaran nasional turnamen Garuda Cup Nusantara pupus di babak 8 besar. Seolah-olah Tuhan tak adil. Entah kesambet apa aku berpikir demikian. Aku pun segera salat karena hanya dalam momen sakral itulah aku bisa menyampaikan semua keluh kesah. 

Benar saja, emosiku turun. Berkontemplasi menjadi lebih sadar diri. Introspeksi bahwa sepertinya kami harus lebih giat latihan. Tuhan belum mengizinkan kami menjadi juara,  nomor satu. Mungkin kami belum siap jika diberikan gelar.

Keyakinan terhadap sesuatu tidak datang begitu saja. Ia dibangun dari banyak kebahagiaan, kepedihan, dan kejatuhan masa lampau yang menjadi gugusan mental. Yang berangsur-angsur logis dengan sedikit dorongan mistifikasi. Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!

Aku percaya kejayaan itu akan datang di waktu yang tepat, di tahun 2025. Tahun inilah semua harapan kami akan terwujud. Janjiku pada Tuhan, kami akan bangkit. Kami lebih siap dan akan lebih kuat. Tuhan, tunggu apalagi, kami sudah sangat siap.