Bengkulu Camkoha

Foto: @puti_soekarno

Kenapa julukan Bumi Rafflesia diubah menjadi “Bengkulu Bumi Merah Putih” oleh pemerintah kota Bengkulu? Itulah pertanyaan besar yang membuatku setengah mati mencari jawabannya.

Julukan Bumi Rafflesia sudah sangat melekat di hati sanubari dan jiwa raga kami sebagai masyarakat Bengkulu. Saat ke luar kota atau pulau Jawa, kami dengan bangga mengatakan Bengkulu itu adalah provinsi yang memiliki bunga rafflesia atau dikenal dengan nama Patma Raksasa dengan jenis bunga bangkai. Jangan sampai salah arti karena dua bunga tersebut serupa tapi tak sama.

Bunga rafflesia sudah banyak sekali digunakan sebagai simbol, ornamen, bahkan elemen dalam sebuah bangunan di Bengkulu. Contohnya Tugu Pers di depan benteng Marlborough yang diresmikan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 9 februari 2014 saat Hari Pers Nasional. Bunga Rafflesia Arnoldii memperkokoh tugu yang menyerupai pena itu, bersanding dengan batik besurek bermotif kain khas Bengkulu. Selain itu bunga raflesia juga banyak digunakan di logo-logo universitas.

Bunga rafflesia ditemukan tahun 1818 di hutan Sumatera, tepatnya di Bengkulu Selatan oleh Thomas Stenfort Raffles (Gubernur Jendral Hindia Belanda asal Inggris) bersama Dr. Joseph Arnold. Nama bunga tersebut adalah penggabungan dari para penemunya. Dari sana pula Eropa menjuluki Bengkulu sebagai The Land Of Rafflesia.

Sembilan kabupaten yang berada di Bengkulu adalah habitat rafflesia sehingga melahirkan lima jenis bunga: Arnoldii, Gadutensis, Haseltii, Bengkuluensis, dan Kemumu. Jenis Bengkuluensis hanya dapat tumbuh di bagian selatan sedangkan Kemumu tumbuh di utara.

Aku pernah melihat secara langsung bunga rafflesia jenis Kemumu. Bentuknya lebih kecil dibanding bunga rafflesia lainnya. Kemumu punya warna mencolok, merona, sehingga sedap dipandang mata. Bunga itu mengeluarkan aroma khas seperti bau bangkai tetapi itulah yang menjadi daya pikatnya menarik perhatian hewan dan serangga di dekatnya.

Daya pikat itu juga yang membawa para wisatawan lokal dan mancanegara berbondong-bondong menuju Bengkulu. Para ilmuan seperti ahli botani sampai sitologis juga sering datang untuk mempelajari keunikan rafflesia. Dunia, mengakui Bengkulu.

Julukan Bumi Merah Putih kini mulai dijalarkan. Dipendarkan dari banyak tempat. Dari sudut sampai tengah kota. Menebal dalam desain ucapan selamat datang di depan bandara Fatmawati. Wacana itu ditunjang dengan patung Fatmawati yang terus dipercantik dengan warna merah dan putih. Upaya untuk menggaris bawahi predikat baru.

Aku menemukan beberapa alasannya. Salah satunya sejarah. Predikat Bumi Merah Putih dirasa lebih pas untuk Bengkulu karena mencerminkan nilai perjuangan dan kebanggaan masyarakat. Predikat ini merujuk pada fakta sejarah bahwa Bengkulu ialah kota kelahiran Sang Saka Merah Putih dari kecakapan tangan Fatmawati, putri asli daerah. Kita sama-sama tahu bawah Fatmawati adalah istri Presiden Sukarno. Ia yang menjahit bendera marah putih yang dikibarkan pada hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Terlepas dari pro dan kontra penamaan baru, aku sebagai masyarakat sangat mendukung bila program-program baru tersebut membuat kami semakin sejahtera. Pada pembangunan yang lebih merata. Pariwisatanya semakin dikenal dan mendunia. Namun, hati kecil ini tidak bisa berbohong, bahwa Bengkulu tetap dan selalu menjadi Bumi Rafflesia hehehe. Bengkulu Camkoha.