
Fenomena menarik muncul bulan Agustus tahun ini. Tentang banyaknya bendera “One Piece” yang berkibar di kendaraan-kendaraan umum. Kemunculan itu melahirkan pertanyaan, kenapa kepopuleran bendera tersebut dekat dengan perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia? Apakah bagian dari mosi tidak percaya rakyat terhadap wakil yang mereka pilih sendiri? Atau hanya untuk keviralan semata saja.
Dalam dunia manga dan anime “One Piece”, bendera tersebut menjadi kebanggaan mereka sebagai bajak laut sekaligus simbol kebebasan. Perlawanan hanya akan dilakukan ketika ada yang mencoba mengambil kebebasan mereka. Karakter utama dalam cerita manga itu adalah bajak laut topi jerami dengan kapten bernama Monkey,D. Luffy bersama sembilan anggota dalam kapal besar bernama Thousand Sunny Go.
Tujuan dari mereka adalah menemukan one piece yang sampai saat ini belum tau itu apa. Sebenarnya masing-masing dari anggota topi jerami memiliki tujuan berbeda-beda, tapi mereka tetap bekerjasama punya ikatan emosional yang dalam satu dengan yang lain. Cerita tentang persahabatan, keakraban, kekonyolan, sampai perlawanan yang membuat “One Piece” terus hidup, bahkan sampai hari ini sudah sampai pada episode 1140.
Bisa jadi kebebasan yang seperti dalam dunia mereka itulah yang melatarbelakangi berkibarnya bendera “One Piece” di mana-mana. Di kala aturan-aturan aneh yang muncul ke publik dan kenaikan pajak yang signifikan membuat seolah-olah berguna untuk rakyat, tapi ternyata hanya berguna untuk pembuat kebijakan.
Seandainya saja dunia pendidikan serupa dunia “One Piece”, tampaknya akan menyenangkan jika ruang-ruang kebebasan bisa hadir dalam dunia pendidikan. Sebagai siswa bebas untuk berekspresi dan berpikir, seliar-liarnya. Sebagai guru juga tampaknya akan menyenangkan jika ruang-ruang berpikir bebas bisa hadir dalam dialektika kelas, bukan hanya dalam sebuah sistematika yang bias dan kaku.
Layaknya dalam cerita “One Piece”, yang dihadapi guru adalah manusia dengan karakter yang beragam, bukan lembaran-lembaran sistematika yang terus divalidasi tanpa melihat bahwa ada hal penting. Kurikulum terus berubah, bahkan dalam 20 tahun terakhir sudah ada lima perubahan kurikulum yang sebenarnya akarnya sama saja. Atas nama perubahan, hal yang penting jadi terlewatkan.
Sebuah quote menarik saya temukan dari media sosial instagram: dan jika hari ini masih ada yang ingin mengubah wajah pendidikan, maka langkah pertama adalah : diamlah sejenak, dengarkan mereka yang benar-benar ada di kelas. Karena di situlah pendidikan benar-benar terjadi.
Yah, begitulah kita berharap bersama-sama ada orang-orang seperti Jolly Roger dan Monkey D Luffy yang membawa harapan baru bagi dunia pendidikan.




Leave a Reply