
Bulan Agustus tentu bulan yang paling ceria untuk rakyat Indonesia. Banyak sekali perlombaan-perlombaan yang digelar mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, sampai provinsi. Dari sekolah, kantor, dan lain-lain. Semua menyambut perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan dengan penuh suka cita. Jalan-jalan dipenuhi kibaran bendera merah putih dan umbul-umbul yang meriah. Gapura yang megah semakin menambah semaraknya jalan-jalan di perkampungan dan perkotaan.
Gemuruh suka cita kemerdekaan Indonesia juga sampai di sekolahku, Sekolah Tenera. Semua jenjang semangat mengadakan lomba dan menghias sekolah dengan nuansa merah putih. Perayaan upacara bendera juga berjalan cukup meriah dan khidmat. Bangga sekali berada di sana, semangat dan haru bercampur jadi satu.
Selain kebahagiaan dan suka cita dalam jiwa dan raga sebagai rakyat Indonesia, beberapa berita yang beredar selama Agustus juga sedikit membuat hati terluka. Berduka. Mulai dari demo besar-besaran masyarakat Pati Bersatu, Menteri yang bilang guru adalah beban negara (walaupun katanya hoaks tapi tetap saja sakit), sampai gaji DPR yang mencapai Rp3 juta per hari di saat guru honor menerima Rp300 ribu per bulan. Semua itu membuat hati kami sebagai rakyat Indonesia semakin menjerit.
Tak ketinggalan berita tentang Pak Noel yang akhirnya tersandung kasus korupsi, yang sempat menghebohkan jagat maya. Berita-berita semacam itu tentunya semakin menambah panjang daftar pejabat yang melakukan korupsi dan mencuri uang negara.
Walau banyak kabar-kabar yang membuat sakit hati dan telinga, tetapi aku sebagai rakyat Indonesia tetap betah tinggal di Indonesia. Tetap mengibarkan bendera merah putih di depan rumahku. Tetap mengikuti upacara dengan khidmat. Tetap hormat dengan tegak ketika bendera merah putih dikibarkan dengan gagah.
Dirgahayu Indonesiaku. Jiwa dan raga hanya untukmu




Leave a Reply