Menjaga Nyala Kemerdekaan di Tengah Keresahan

Salah satu karya anak Tenera

Semarak kemerdekaan sudah terasa ketika memasuki bulan Agustus. Warna merah putih mendominasi. Bendera kecil hingga besar berkibar di mana-mana. Hiasan-hiasan meramaikan suasana sepanjang bulan Agustus. Tak terasa, 80 tahun sudah kemerdekaan diwariskan oleh para pejuang. Kita hanya perlu berjalan melanjutkan kemerdekaan yang telah diwariskan. 

Hati saya dipenuhi rasa syukur. Membayangkan bahkan masih ada mereka yang negaranya belum merdeka. Bom di mana-mana, kelaparan merajalela, bahkan kematian selalu terbayang di depan mata. Bisa hari ini, esok, atau lusa. Di sisi lain, kita di tanah air ini diberikan ketentraman, keindahan alam, dan setiap tanahnya menyimpan kehidupan. Dalam setiap senyuman anak negeri selalu ada cerita tentang keberagaman yang hidup dalam harmoni.

Namun, di balik itu ada keresahan yang tak bisa disembunyikan. Pemberitaan yang tak masuk akal di mana-mana. Pemberitaan tentang aturan dari para petinggi—yang katanya— wakil rakyat seakan berputar dalam kepala, menghadirkan ragu, gelisah, dan tanda tanya besar: ke mana kebijakan mereka membawa kami?

Gaji wakil rakyat yang tinggi berbanding terbalik dengan rakyat biasa yang mereka sebut jelata. Wakil rakyat mengeluh perihal gaji dan kemacetan dalam mobil mewah. Pajak rakyat naik. Bahkan sekarang mendengarkan lagu saja dipenuhi ketakutan karena harus membayar royalti. Haha miris. 

Di momen ini, saya memilih menenangkan hati. Saya ingin terus percaya bahwa dengan profesi saya, mengajar dengan tulus adalah bentuk dari perjuangan kecil yang bermakna. Walau kebijakan di atas sana mungkin berubah-ubah namun semangat saya tak boleh padam. Seperti api obor yang tetap menyala begitulah saya ingin menjaga nyala tekad saya. Mendidik anak-anak dengan hati, meski resah, meski lelah, tapi di sanalah letak makna melanjutkan warisan kemerdekaan.