Obituari: Anggiat Rutherford dan Dunia yang Ia (Selalu) Tertawakan

Dok. Wikihow

Gajah tidak pergi meninggalkan gading. Ia meninggalkan kenangan serta perasaan luas dan dalam. Anggiat Rutherford Situmorang, bagi saya adalah gajah yang seperti itu. Ia menunjukkan kasih sayang melalui ikatan sosial yang kuat, kepedulian terhadap anggota kawanan, dan empati terhadap sesama yang memperlakukannya dengan baik. Anggiat protektif dan hebatnya menolak mengasihani diri sendiri.

Seingat saya, sejak menjadi Tukang Kebun Nyalanya, baru satu kali bertemu Anggiat. Kami mengobrol sedikit-sedikit saja. Topiknya tentu saja tentang tulisan, esai.

Dia ingin (bisa) menulis, katanya. Sebab hidupnya tidak biasa-biasa saja. Dia mau cerita semuanya pada dunia. Agar kita tahu bahwa Anggiat tidak pernah kalah pada dunia yang cukup kejam pada orang kecil ini. Saya ingat betul dengan analogi yang diceritakan Anggiat tentang hidupnya saat kami ngobrol di Tenera 2018 lalu. Bagi Anggiat, hidupnya itu seperti sirkuit MotoGp Mugelo. Hanya saja aspalnya tak mulus, setiap keloknya penuh kerikil dan tebing tebal yang siap meremukan tulang bila ia terpelanting.

Selebihnya, saya hanya mengenalnya lewat tulisan-tulisan d Nyalanya. Ada tulisannya yang sangat hangat. Ada yang muram dan dingin. Ia menelanjangi dirinya sendiri. Menertawakan setiap peristiwa dalam hidupnya. Dari hal-hal remeh macam lupa melepas helm saat masuk ke ruang rapat, ekperimen sosial menjadi kuli, mitos petai, dan tawanya terhadap Bell Palsy, penyakit yang ia derita.

Anggiat dan rekan-rekan berfoto di bilik foto Sikola Kumpul Galo 2

Anggiat mencintai kata-kata. Di tangannya, tulisan menjadi jendela untuk melihat dunia yang lebih luas dan lebih peka. Saya menangkap kesan dalam, bahwa baginya menulis adalah cara terbaik untuk mengingat bahwa kita pernah hidup—dengan kegembiraan, dengan ketakutan, dan dengan cinta yang selalu ingin kita bagikan.

Namun hidup bukan sekadar ruang kelas dan mesin ketik. Ia adalah ayah yang kuat—bukan dalam definisi keras yang memaksa, melainkan kekuatan yang menjaga, memeluk dunia kecil bernama keluarga agar tetap hangat meski angin menerjang. Cinta dan tanggung jawabnya adalah dua tangan yang tak pernah lelah menopang bahagia orang-orang terdekatnya.

Dan Anggiat itu sosok ceria. Tulisan-tulisannya bicara demikian. Betapa cerianya ia. Tawa Anggiat seperti matahari yang keras kepala, tidak pernah mau padam meski hujan deras mencoba mengikis mentalnya. Dari bahunya, kita belajar bahwa kesedihan boleh datang, tapi hidup harus tetap diperjuangkan.

Kini ia pergi. Dan kepergian selalu terasa terlalu cepat untuk orang-orang terbaik. Ada ruang kosong yang tidak bisa segera kita isi. Namun bukankah ia telah memberi kita begitu banyak? Kata-katanya akan terus hidup. Sebab saya yakin usia kata-kata jauh lebih panjang dari penulisnya. Dan yang paling penting, ketulusannya akan dikenang oleh teman seperjuangan lalu tumbuh menjadi kekuatan di hati keluarga yang ia tinggalkan.

Anggiat Rutherford telah selesai menulis kalimat terakhirnya di dunia ini. Tetapi karyanya tidak akan pernah berakhir. Ia telah menanam keberanian, kebaikan, dan cinta pada begitu banyak jiwa. Kita bersedih karena kehilangan. Tapi kita juga bersyukur karena pernah mengenal manusia seindah itu.