In Loving Memory: Anggiat Situmorang

Dok. Wikihow

Hidup manusia bagai musafir, demikian kata pepatah. Selama berada di dunia, manusia dituntut melayani sesama. Di akhir hidupnya maka seorang musafir akan kembali kepada pencipta-NYA. Itu tanda bahwa tugas di dunia telah selesai.

In memoriam Pak Anggiat Situmorang. Seorang pemimpin yang berwibawa. Kami teringat dengan pelayananmu di SD Tenera yang berbeda dengan pemimpin lainnya. Salah satu bentuk pelayanan yang sudah dilakukan adalah menunjukkan kasih dan kebaikan yang besar pada murid dan guru SD Tenera agar lebih maju sekaligus kreatif.

Setiap hari pikirannya fokus untuk kemajuan sekolah. Kami juga diajarkan beliau untuk mendoakan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar lalu membimbing mereka dengan tulus sesuai jargon SD Tenera: Berbudi Luhur, Cerdas, Berprestasi.

Beliau juga mengajak kami untuk terus melakukan sesuatu yang baru di kelas. Baru-baru ini mengajak semua murid dan guru untuk program Tenera Hijau: Sampahku Tanggung Jawabku. Walau tubuh terus melemah, beliau tetap hadir menyalakan semangat guru. Walau sakit masih sedikit cerewet, semua dilakukan untuk kebaikan.

Saya ingat betul momen-momen indah dengan beliau. Saat lomba makan telur rebus dan mie goreng dalam perayaan 17an, beliau bisa memasukkan lima butir telur rebus ke dalam mulutnya. Dengan satu kali suapan, lima telur itu masuk mulutnya. Semua penonton heran, kok bisa makan sebanyak itu dalam sekali sapuan.

Beliau memenangkan perlombaan. Setelah mengantongi hadiah, beliau ke kamar mandi. Seorang temanku mengikutinya. Ternyata, beliau memasukkan jari telunjuk ke dalam mulut untuk mengeluarkan lima butir telur. Setelah mengeluarkan telur itu dari mulutnya, dia bilang: biar tidak kolesterol. Kami tertawa mendengar cerita temanku. Ternyata begitu triknya makan telur rebus tanpa dikunyah.

Ada kasih dan nasihat yang diberikan kepada kami. Salah satu kebersamaan yang kami pernah kami lakukan yaitu buka puasa bersama. Beliau sangat menghormati teman muslim. Sebelum buka puasa, diajak bermain tebak-tebakan yang lucu. Beliau juga selalu mengajak makan bersama ke rumahnya ketika Natal. Ada yang belum kesampaian, keinginannya ingin mengajak guru-guru jalan-jalan ke Bengkulu menuju Sekolah High Scholl.

Ada lagi cerita lucu saat kami berdiskusi tentang proyek. Beliau ingin membuat peternakan ayam yang luas di kaplingan tanahnya saat pensiun. Peternakan 1000 ayam akan diambil telurnya lalu dijual sehingga bisa mendapat penghasilan tambahan. Beliau bilang kotoran ayam tidak boleh berserakan. Kami tanya bagaimana caranya. Sambil tertawa beliau mengatakan bagian bokong ayam dipasang pampers. Kami tertawa terpingkal-pingkal.

Di tengah pergulatan, antara hidup dan mati, beliau terus berjuang melawan penyakitnya. Dan di tengah rasa sakit itu, kasihnya tetap ditunjukkan kepada kami. Ia meminta agar kami bisa bertemu dengan Beliau untuk terakhir kalinya.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, kami ingin membalas kebaikannya. Melakukan kegiatan yang dapat menyenangkan hatinya. Namun, bagi beliau kasih tidak menuntut balas. Selamat jalan Pak Anggiat, kami akan selalu mengenangmu.