
Namaku Tio Fitri Oktaviani Silalahi. Tanggal 28 Desember 2025 lalu aku dan bapak berangkat menjemput opung di Jambi sambil jalan-jalan di sana. Kami berangkat jam setengah tujuh pagi dari rumah. Tidak langsung ke Jambi karena mau menjemput saudara yang ingin ikut. Kira-kira jam setengah delapan kami baru menuju Jambi.
Rute ke Jambi kami percayakan pada bapak. Seingatku kami sering berhenti untuk beli camilan dan makan. Kami makan di mobil karena ada hujan dan setelah itu aku lebih sering tidur. Pas bangun tahu-tahu kami sudah sampai di Jambi pinggiran dan karena baru pertama kali ke sana, bapak menggunakan Google Maps supaya tidak tersesat.
Kami sampai di Jambi sekitar jam tujuh malam. Di kanan kiri jalan banyak orang jualan duku, jadi kami berhenti dulu untuk beli. Setelah itu kami cari makan karena lapar. Selesai makan kami lanjut lagi dinavigatori Google Maps. Kami mengikuti semua saran Google tetapi kok rasanya ada yang aneh dengan jalan yang ditunjukan maps.
Jalan itu berbatu. Semakin lama penerangannya berkurang. Bapak tidak percaya sehingga turun dari mobil lalu bertanya pada warga sekitar. Serang warga menjawab bahwa jalan itu memang benar menuju Kecamatan Meriung, tempat opung tinggal, tetapi dia menyarankan agar kami putar balik saja.
“Jalan itu jelek dan ini sudah malam, takutnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lagipula kalian bukan orang sini,” kata orang yang ditanyai bapak itu.
Setelah putar balik, bapak menelepon opung agar dipandu menuju ke alamatnya. Sayang opung tidak tahu jalan sehingga dia berlari ke rumah tetangga minta tolong menuntun kami. Tetangga opung bilang lewat kota saja biar lebih aman kemudian menuntun kami keluar dari jalan yang katanya cukup berbahaya bagi orang luar itu.
Kami mengikuti saran tetangga opung sampai di kota. Namun, info yang dia beri kurang lengkap sehingga kami kembali tersesat lagi. Kami malah berputar-putar di kota. Setelah beberapa jam menyusur jalan kota, sampailah ke Simpang Meriung dan di sana kami dijemput tetangga opung.
Bapak mengikuti orang itu dari belakang. Karena tidur lagi, aku tidak tahu jalan menuju rumah opung dari simpang itu. Pas sampai aku baru bangun dan ternyata daerah rumah opung itu mirip Agricinal yang teduh karena dikepung pepohonan dan tanaman.




Leave a Reply