Nilai-nilai Mama yang Terus Menghidupiku

Dok. Wikihow

Di antara semua guru favorit dalam hidupku, sosok yang paling istimewa dan tak tergantikan adalah mamaku sendiri. Bagiku, mamaku salah satu guru yang tulus dalam mendidik. Mama guru Kimia. Dia penuh cinta kasih tapi sangat disiplin, konsisten, dan teguh pada prinsip hidupnya. Baginya, mengajar bukan sekadar profesi melainkan ibadah dan pelayanan.

Di tengah berbagai pengaruh lingkungan, bahkan pada masa ketika banyak pegawai negeri bolos mengajar, mamaku tetap berkomitmen. Ia tidak pernah terpengaruh. Tetap bertanggung jawab dan mengajar dengan hati. Keteladanan itu menjadi fondasi kuat dalam kehidupan kami sekeluarga.

Di rumah, mamaku melanjutkan perannya sebagai pendidik. Setiap hari, sejak kami kelas satu SD hingga SMA, dari pukul enam sore sampai sembilan malam, secara konsisten tiada hari tanpa belajar. Ia membesarkan lima orang anak dengan nilai yang sama, tanpa perbedaan.

Dari kedisiplinan itulah kami belajar bahwa segala sesuatu yang ingin dicapai harus melalui proses yang panjang, sabar, dan konsisten. Nilai-nilai tersebut tumbuh menjadi cerminan yang membentuk identitas kami masing-masing.

Selain suka mengajar, mama punya hobi menyanyi. Ia mencintai seni dan selalu mengikuti perkembangan zaman. Setiap kali ada lagu-lagu terbaru dari MTV, mama antusias membeli kaset agar bisa kami pelajari bersama. Musik menjadi bagian pendidikan di rumah, cara sederhana namun bermakna untuk menumbuhkan kepekaan dan kebersamaan. Dari lima anaknya, akulah yang lebih banyak menjadi pendengar daripada pelaku, tetapi dari sanalah aku belajar menikmati proses dan memahami makna.

Tidak berhenti di situ, mama juga mengajarkan kami kemandirian dan pengelolaan keuangan sejak dini. Sejak SMP hingga SMA, aku sudah dipercaya menjadi admin rental mobil keluarga. Dengan sabar, mamaku mengajari mencatat pemasukan dan pengeluaran, mengelola setoran hasil “nambang” mobil sampai bertanggung jawab atas keuangan.  Dari proses itu, aku belajar tentang kejujuran, ketelitian, dan konsistensi.

Ketika aku menoleh ke belakang, aku menyadari bahwa aku belum sepenuhnya mampu menandingi fokus dan keteguhan mama. Ia seolah tidak mengenal lelah, terus memenuhi panggilan hidupnya sebagai pendidik. Bertahun-tahun kemudian, aku menjadi saksi hidup dari buah pengabdiannya.

Banyak murid mamaku yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga keluar negeri, bahkan sampai ke Jepang. Yang paling mengharukan, mereka tidak pernah melupakannya. Setiap tahun, ucapan, dan kado ulang tahun terus berdatangan sebagai bukti bahwa ketulusan seorang guru akan selalu hidup dalam ingatan murid-muridnya.

Dari mamaku, aku belajar bahwa guru sejati bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi membentuk manusia seutuhnya. Dan bagiku, mamaku bukan hanya guru favorit, ia adalah teladan hidup yang nilainya tinggal dalam diriku.