Dari Bau Menyengat itu Kita Tumbuh dan Belajar

Dok. Wikihow

Jujur, dulu aku termasuk orang tua yang nggak terlalu detail soal isi tas anak. Selama PR dikerjain, botol minum pulang, dan kotak bekal nggak hilang, aku merasa semua baik-baik saja.

Tas ya tas. Isinya buku, pensil, sama remah-remah kecil yang aku pikir wajar. Sampai suatu hari ada bau aneh dari dalam tas anakku. Bukan bau biasa. Bau yang bikin refleks pengen menjauh, bahkan sebelum resletingnya dibuka. Suamiku yang pertama kali menyadarinya.

Dia memang orangnya tegas soal sampah. Sejak 2018, sejak perusahaannya gencar kampanye peduli lingkungan, urusan sampah di rumah kami berubah total. Nggak ada cerita buang sembarangan. Semua harus dipilah. Semua harus jelas dibuang ke mana.

Dan hari itu, dia yang membuka tas anakku.

Aku masih ingat ekspresinya waktu nemu plastik kecil di dalamnya. Isinya sisa buah semangka dan melon dari program MBG sekolah. Sudah lembek. Sudah berair. Sudah jadi sumber bau yang memenuhi tas. Suamiku langsung bertanya ke anakku dengan nada tegas.

“Kenapa sampahnya disimpan di tas? Kenapa nggak dibuang di tempat sampah?”

“Di sekolah nggak ada tong sampah lagi, Papa. Sampahku tanggung jawabku.”

Suamiku langsung protes. Katanya area publik wajib ada tempat sampah. Katanya sekolah harus menyediakan fasilitas. Bahkan sempat bilang mau menyampaikan langsung ke pihak sekolah. Aku tidak mengiyakan tapi juga tidak membantah karena jauh di dalam hati, aku tahu itu juga salahku.

Aku nggak rajin cek tas anak. Aku juga tahu anakku memang sulit makan buah. Semangka digigit sedikit, dimasukkan plastik lagi lalu dibawa pulang bersama buku-bukunya. Hari itu perdebatan kecil terjadi. Tidak besar tapi cukup membuatku berpikir.

Waktu berlalu. Sampai akhirnya hari ini, wali murid diundang ke sekolah. Sosialisasi program baru: Tenera SATU — Sampahku Tanggung Jawabku. Program yang ternyata sudah digaungkan sejak Agustus 2025. Sudah lama berjalan. Hanya aku yang baru benar-benar memahami maknanya.

Di ruang pertemuan itu, dijelaskan sesuatu yang membuatku terdiam lama. Hilangnya tong sampah di sekolah bukan kelalaian tapi strategi. Aku mengernyit waktu pertama dengar. Tapi penjelasannya pelan-pelan membuka pikiranku.

Anak-anak sengaja tidak selalu disediakan tong sampah bukan untuk menyulitkan melainkan untuk menumbuhkan kesadaran pribadi. Kalau tong sampah tidak ada, mereka harus berpikir seperti ini: sampahku harus bagaimana?

Mereka dilatih tidak bergantung fasilitass tapi bertanggung jawab atas sampahnya sendiri. Tiba-tiba aku teringat bau dari dalam tas waktu itu. Plastik buah yang lembek. Perdebatan kecil di rumah. Protes suamiku. Diamku waktu itu. Dan anehnya kali ini aku tidak kesal. Hatiku justru hangat.

Karena keresahan yang selama ini riuh di kepalaku soal sampah, lingkungan, bumi yang makin penuh limbah ternyata sedang diusahakan solusinya. Dimulai dari anak-anak. Dimulai dari kebiasaan kecil. Dimulai dari satu plastik sampah di dalam tas.

Aku pulang dari sosialisasi itu dengan perasaan berbeda. Tidak lagi melihat program ini sebagai sesuatu yang merepotkan. Aku melihatnya sebagai pendidikan hidup. Pendidikan yang mungkin tidak tertulis di buku pelajaran tapi berdampak panjang.

Aku jadi ingat beberapa waktu lalu ketika aku dan anakku membersihkan jalan dekat pembibitan. Memungut sampah satu per satu. Dilihat orang lalu diikuti anak-anak lain. Hari itu aku merasa sendirian tapi ternyata tidak. Dan sekarang, lewat program Tenera SATU, aku merasa langkah kecil itu punya teman. Punya sistem. Punya arah.

Aku jadi ingin mengajak wali murid lain juga. Pelan-pelan saja. Kita tidak harus langsun melakukan hal besar. Bisa dimulai dari rumah, membiasakan anak pilah sampah, mengajarkan tidak buang sembarangan, membiasakan bawa pulang sampah jika tidak ada tempat buang, mengelola sampah dapur sederhana.

Sebab, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya di sekolah. Harus nyambung ke rumah. Kalau di sekolah diajarkan tanggung jawab, di rumah harus dikuatkan supaya anak tidak bingung. Supaya nilai itu tumbuh utuh.

Hari ini aku tidak lagi melihat plastik di tas anak sebagai masalah. Aku melihatnya sebagai proses belajar. Belajar bertanggung jawab. Belajar peduli. Belajar bahwa bumi ini bukan tempat sampah raksasa tapi rumah yang harus dijaga.