Standar Medsos Terbaru tentang Cewek Cowok yang Menyebalkan

Dok. Wikihow

Akhir-akhir ini saya sedang menggandrungi media sosial Threads. Dia adalah aplikasi media sosial berbasis teks bikinan Meta (induk Facebook dan Instagram). Sebenarnya sudah diluncurkan sejak 2023 dan dirancang sebagai pesaing langsung X tetapi baru 2026 ini ramai.

Aplikasi ini terintegrasi dengan Instagram. Unggahan teks, foto, dan video real-time, serta percakapan juga bisa langsung dibagikan ke story IG.

Mulanya menyenangkan. Sebagian besar mencari rekanan, teman. Generasi Threads (saya menyebutnya demikian) berbagi banyak hal positif. Ada yang berbagi pengetahuan tentang profesi. Ada yang berbagi lagu, tulisan yang belum sempat dibukukan, sampai orang-orang yang menawarkan pekerjaan.

Semakin populer suatu media, kecenderungan untuk berubah juga semakin besar. Dan itulah yang terjadi pada Threads. Entah bagaimana algoritmanya bekerja, linimasa saya tiba-tiba dilintasi banyak pengguna yang menggunakan standar personalnya dalam mengomentari hidup orang lain.

“Ada cowok yang deketin gue, gajinya cuma tiga juta. Gila, perawatan kucing gue aja lebih dari itu. Plis cewek-cewek jangan mau dideketin sama cowok yang gajinya nggak dua digit,” tulis salah satu akun.

Paling nggak, kebutuhan dasar gue kayak skincare terpenuhi dulu. Sebulan tuh gue bisa sampe 500 ribu sendiri buat skincare,” balas akun lainnya.

“Sagittarius memang gitu, suka ghosting. Jangan mau sama orang-orang Sagi,” tulis akun lainnya.

Rentetan unggahan itu bikin saya ingat Twitter. Mulanya asyik, apalagi tahun 2009, banyak informasi dan pengetahuan berseliweran tetapi lama-lama melahirkan polrarisasi sosial yang berdampak besar pada psikologis. Kesamaan ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa literasi dan komunikasi langsung itu sangat penting dalam setiap generasi.

Saat ini dunia menyempit, bukan karena bumi menyusut tetapi karena pengguna media sosial digiring untuk memandang sesama dari lubang yang mereka gali sendiri. Ilmu pengetahuan dan informasi yang katanya membuka jendela, justru lebih sering menjadi celah sempit tempat kita mengintip, menilai, lalu menghakimi.

Manusia diringkas menjadi label sederhana. Saya melihat sebuah hubungan tumbuh dan bertahan bukan dari pengertian, tetapi dari kalkulasi. Ada yang mencintai karena merasa diuntungkan. Ada yang bertahan karena takut kehilangan fasilitas. Ada pula yang pergi karena hitung-hitungan tidak lagi seimbang. Semua seperti neraca.

Dan sampailah pada konsep pernikahan. Saya jadi takut, ngeri. Saya orang dengan pikiran kuno. Selalu berpikir bahwa pertemuan dua manusia seharusnya seperti dua tangan yang saling menggenggam. Pernikahan adalah konsep lanjutan dari kerja sama, kolaborasi. Bukan untuk saling menguasai, tetapi untuk berjalan bersama.

Namun di media sosial, kini, orang-orang sudah sibuk menakar: siapa memberi lebih, siapa mendapat lebih. Seakan cinta adalah kontrak dagang yang bisa dibatalkan sepihak jika dirasa merugi. saya tidak tahu sejak kapan kita menjadi begitu takut untuk mengenal manusia sebagai manusia. Kita lebih nyaman dengan stereotip, dengan kategori.

Mungkin karena memahami seseorang secara utuh membutuhkan waktu, kesabaran, serta keberanian. dan sayangnya pemahaman seperti itu tidak lagi populer di zaman yang serba cepat ini. Zaman yang memberi tahu bahwa semua harus dibagikan ke layar-layar kaca.

Sambil terus scroll Threads, saya hanya bisa berharap semoga masih ada orang-orang yang mau melihat lebih jauh dari sekadar zodiak, lebih dalam dari sekadar gender, lebih jujur dari sekadar untung-rugi.