Dari Kaset Teletubbies sampai Majalah Bobo Bekas

Dok. Wikihow

Saya lahir tahun 1995. Meski statusnya anak pertama, saya tetap menjadi yang termuda di sekitar lingkungan rumah. Papa saya dulu sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil. Tidak seperti teman-teman yang berjalan kaki ke sekolah, sejak SD saya sudah diantar naik papa naik motor Legenda.

Setiap malam minggu, teman-teman sekitar rumah berkumpul di rumah saya untuk menonton bersama. Rasanya setiap sore kami bermain, tapi menonton tv bersama menjadi kebiasaan yang berlangsung cukup lama. Kebiasaan itu ada setelah papa rutin membelikanku kaset Teletubbies.

Dulu mama punya warung manisan kecil di depan rumah, jadi beliau selalu pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan warung. Saat beliau sibuk berbelanja, papa akan menunggu di toko kaset. Papa bilang yang punya toko selalu mengabari jika ada seri terbaru. Kaset itu juga yang menjadi syarat keberangkatan mereka ke pasar. Aku tidak diajak karena motor penuh barang.

Tahun berlalu saya lupa bagaimana kami menghentikan kebiasaan nonton bersama. Namun tiket belanja mama dan papa tetap ada, hanya berganti barang saja. Beberapa kali saya diajak belanja ke pasar Rabu, saat hari libur misalnya. Mama memperkenalkan majalah Bobo bekas yang disusun rapi dan dijual Rp3-5ribu.

Saya duduk memilah sesuai pesan mama: yang masih bagus, jangan yang sudah banyak sobekan. Sementara mama berkeliling belanja sayur untuk keperluan dapur. Di perjalanan pulang,  Bobo itu berada dalam pelukan. Meski dihimpit tas belanja dan berada di antara mama dan papa, saya bahagia sekali.

Sejak saat itu, kaset Teletubbies berubah menjadi majalah Bobo. Dulu tidak peduli itu adalah majalah bekas, menunggu mereka pulang dari berbelanja rasanya seperti sedang menunggu doa yang sudah pasti terkabul oleh Tuhan. Rasanya riang dan seru sekali.

Belum lagi jika mama membeli lebih dari satu majalah Bobo dengan halaman yang lebih tebal daripada biasanya. Rasanya seperti mendapat berkat. Sampai saya lulus SMP, kami masih berlangganan Bobo bekas dari pasar di toko yang sama.

Majalah Bobo yang semakin tua sudah banyak yang dijual ke tukang loak, begitu seterusnya sampai saya mengenal handphone. Majalah Bobo tidak lagi menjadi bacaan pengantar tidur ataupun tiket belanja. Begitu pula dengan Apak penjual majalah Bobo di pasar Rabu. Saat itu ada perubahan bangunan pasar, banyak toko yang pindah lokasi dan lain sebagainya, Apak pun tidak pernah terlihat berjualan lagi.