
Akhir tahun 2014 hingga awal tahun 2015 batu akik menjadi tren. Sebagian besar kaum adam sangat menyukai barang itu. Harganya bahkan mencapai ratusan untuk kreteria tertentu. Karena harganya melambung tinggi banyak laki-laki berburu batu hingga ke pedalaman.
Bengkulu utara ini ladangnya orang mencari batu akik. Batunya memang bagus-bagus, nilainya pun cukup fantastis. Tidak sedikit masyarakat di sini alih profesi menjadi pencari batu akik.
Di era itu, ternyata suamiku ikut-ikutan mencari sekaligus mengkoleksi batu akik. Dia mendapatkan batu di pedalaman hutan Mukomuko. Hutan itu bagian dari Desa Pangeran yang terletak di sebuah perusahaan. Banyak orang-orang di berbagai daerah mencari batu akik di sana.
Masalahnya adalah hampir tiap malam rumah kami menjadi markas bapak-bapak komplek membuat dan mengukir batu akik. Kebetulan di rumah peralatannya lengkap. Bukan hanya sekadar membuat namun mereka juga mengobrol sampai larut malam. Terbayang kan bagaimana kualitas tidurku. Sangat terganggu teman-teman.
Namun di balik itu semua bapak-bapak ini membentuk lalu mengasah batu akik yang sangat indah. Suami ku bahkan membuat gelang yang sangat indah dari batu akik. Ternyata ada juga manfaatnya tiap malam dia begadang.
Sekarang itu semua hanya cerita dan tinggal kenangan. Peralatannya pun masih mangkrak di rumah. Tidak terpakai. Batu akik lama-lama ditinggalkan penggemarnya. Mungkin harganya tidak setinggi dulu. Walau sekarang batu akik tidak populer lagi, aku bangga pernah menjadi bagian dari sepenggal cerita kehidupan itu. Semoga batu akik populer lagi.




Leave a Reply